Bermain itu hidup

by - April 12, 2013


Bermain adalah hampir seluruh dunia tentang anak-anak. Di benak anak-anak, bermain bisa jadi adalah pikiran utama mereka, menurutku…:). Kalaupun aku senang belajar, aku akan sangat senang jika belajar itu seperti bermain. Anak-anak yang lain, sepertinya sama juga. Bermain seperti kebutuhan yang tiada habisnya.
Ngomong-ngomong tentang bermain, aku punya beberapa cerita yang setidaknya mewarnai masa kecilku. Biasanya, sepulang sekolah, segerombolan siswi/siswa berkumpul di rumah salah seorang teman, rumahku pun salah satu favoritnya. Rumahku memang luas dan yang terpenting adalah sepi. Rasanya kami anak-anak bebas untuk “mengacak-acak” seisi rumah. Aku dan beberapa teman tak punya permainan favorit. Itu karena kami selalu punya ide baru setiap kali mau menentukan main apa hari ini.
Suatu hari kami bermain loncat, bernyanyi dan salju. Nama permainan yang cukup aneh memang, yang jelas waktu itu kami memutar lagu Sherina cukup kencang, lalu naik ke atas lemari yang menempel ke dinding melalui rak-rak yang besar, lalu kami melompat dari lemari itu dan meluncur ke kasur yang ditumpuk-tumpuk. Cihuuyyy…teman yang di bawah telah bersiap membuat salju-saljuan dari sterofoam yang di gesek dengan sisir lalu di tebar ke udara. Jadilah kami serasa melompat dari pohon ke lautan salju. Yiheiii..setelah mendarat di kasur kami tertawa sekeras-kerasnya sambil bernyayi tanpa mempedulikan siapa yang mendengar. Permainan ini pun baru terhenti dan selamanya tak pernah dimainkan lagi saat beberapa teman merasa sakit kepala setelah beberapa kali meluncur dari atas lemari. Mungkin mereka tidak melakukan pendaratan yang tepat saat itu. Hihi…
Lain lagi permainan catwalk model baju lemari. Baju lemari adalah kata kunci permainan ini. Sebagai tuan rumah, aku harus menyediakan berbagi macam pakaian dan kain-kain, bahkan seingatku hampir seluruh isi lemari ibuku termuntahkan. Lalu kami berlenggak lenggok bak model terkenal dengan iringan musik India. Ada yang berjalan malu-malu dan mesam-mesem saja, ada pula yang sangat percaya diri, tertawa terbahak-bahak, semua punya gaya masing-masing. Aku? Aku termasuk yang sedikit malu-malu tapi cukup memalukan. J
Ada banyak ide cerita yang muncul saat aku dan teman-teman akan mulai bermain, kami sangat kreatif saat itu. Bak sutradara, kami memainkan apa yang kami imajinasikan. Coba waktu itu sudah ada gadget-gadget yang sekarang ini sudah menjadi “sahabat” anak-anak, mungkin kami takkan punya cukup banyak cerita untuk mengenang aktivitas masa kecil. Mungkin kami takkan punya banyak memori yang menggambarkan kami sedang tertawa, berlari, dan saling berebut ide. Hanya kami, anak dengan anak, manusia dengan manusia, bukan manusia dengan alat. Hanya kami….:)

You May Also Like

0 comments