change the world..

by - April 14, 2013


Bercita-cita merubah dunia adalah apa yang kupikirkan jika ada yang bertanya apa cita-citaku kelak. Mungkin aku tak menjawabnya langsung seperti itu, tapi dalam hati aku menancapkan kuat jawaban itu, “merubah dunia”. Lucu, aku tak tahu darimana pemikiran itu muncul di saat aku masih kecil.
Di rumah, setiap malam ayahku selalu menonton berita malam TVRI jam 21.00, nama programnya adalah “dunia dalam berita”. Tontonan ini wajib, meski aku harus berebutan remote dengannya. Setiap kali menonton berita seputar dunia di luar sana, aku selalu berpikir keras, mengapa itu terjadi? Setidaknya gumaman ayahku saat menonton berita cukup membantu, meski kadang mengganggu juga.. J
Suatu ketika, kejadian 11 September mengguncang dunia. Kala itu, semua orang ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, maka jadilah TV-TV menyala tiap jam agar orang-orang tak ketinggalan berita. Seketika muncul hasil penyelidikan yang sangat cepat, bahwa peristiwa itu dilakukan oleh sekelompok “teroris”, aku yang masih duduk di bangku SD merasa ada yang salah. Apanya yang salah? Rasanya aku merasa  yang dikatakan di TV itu akan menimbulkan tragedy yang besar.
Kejadian berlanjut saat Amerika mulai menginvasi Afganistan, ya aku langsung sadar, ini juga tidak benar, pasti akan terjadi kekacauan besar. Saat berita dimulainya invasi itu, tiba-tiba aku langsung menangis sejadinya. Saat itu aku langsung sholat dan berdoa agar Allah menjaga saudara-saudaraku di sana. Tiba-tiba ada rasa kelabu yang menggelanyut di hati, saat berita demi berita menunjukkan telah terjadi bencana besar. Kala itu, aku masih SD, aku masih jadi si kelinci kecil dan teman-temanku yang lain tak ada yang peduli dengan masalah ini.
Sebagai bentuk perhatianku, aku menulis doa atau tepatnya puisi..Aku juga berdoa agar aku bisa merubah dunia. Aku ingin merubah dunia dengan bicara, membentuk sebuah gerakan yang berpengaruh, entah itu apa. Dalam imajinasiku, aku berkhayal aku sedang berbicara di depan “dunia” dengan semangat yang menyala, menyerukan kedamaian dan keadilan. Begitulah kiranya sang kelinci kecil berimajinasi, meski akhirnya saat ia beranjak dewasa ia sadar, merubah dunia diawali dengan merubah diri sendiri, menjadikan dirinya menjadi sosok yang kuat, berani, dan “besar”.
Setidaknya, aku merasa lega bahwa dulu aku punya rasa simpati yang besar, yang muncul dari cita-citaku “merubah dunia”, dengan begitu aku tahu bahwa aku telah menunjukkan rasa cintaku pada persaudaraan, pada kemanusiaan. Aku lega mengetahui bahwa aku berkesempatan merasakan gelisahnya hati saat bencana melanda orang yang entah jauh di sana. Di saat anak-anak seusiaku mungkin hanya menganggap ini sebagai kabar besar dan akan berlalu.

You May Also Like

0 comments