dibully?

by - April 14, 2013


Apakah kalian pernah dibully? Ya…dibully, dikerjai, didiskriminasi, bahkan dilecehkan. Aku pernah, aku adalah korban dibully saat SD menjelang tahun kelulusan. Saat itu yang melakukan bullying adalah teman-teman laki-lakiku.
Menurut beberapa cerita tentang anak yang dibully, bullying bisa terjadi karena beberapa sebab, misalnya kekurangan fisik atau kemampuan tertentu, masalah yang menimpa anak tersebut, atau hal-hal berbeda lainnya yang dimiliki sang anak. Kalau aku, entah karena apa aku dibully. Dulu aku memang termasuk murid yang paling tinggi –badan- di sekolah, memang di rumahku juga sedang ada masalah, tapi  aku tak jauh berbeda dengan teman-temanku.
Suatu ketika seorang teman laki-laki yang duduk di belakangku menumpahkan obat merah ke baju seragamku dari belakang. Aku kaget, marah, dan menangis. Meski seisi kelas tahu apa yang terjadi, tak ada satu pun yang berusaha menolong. Akhirnya aku pun pulang dan menceritakan kejadian itu ke orang tua. Entah apa yang salah dengan ceritaku, orang tuaku juga tak terlalu menolong. Akhirnya esok hari aku berangkat lagi ke sekolah dengan perasaan sedih, sekaligus takut. Aku takut membayangkan apa lagi yang akan terjadi.
Di hari-hari yang lain, beberapa teman laki-laki melakukan bullying di waktu sebelum masuk ke kelas tiba. Kala itu kami harus melakukan ritual berbaris sebelum masuk kelas. Mereka selalu merencanakan strategi agar aku masuk terakhir dan berada di barisan terakhir, maka jadilah aku selalu yang terakhir. Saat aku akan masuk ke kelas, mereka berkumpul di pintu masuk. Jika aku memaksa masuk, aku akan melewati mereka, dan apa yang akan terjadi padaku, sungguh menggelikan saat aku mengenangnya. Jika aku bertahan untuk tidak masuk kelas, mereka akan memaki-makiku sampai aku menangis sendiri di luar kelas, sedang teman yang lain hanya bisa menatapku dari dalam kelas. Ada yang iba, ada pula yang menertawakan.
Kejadian itu berulang-ulang kuhadapi sebelum akhirnya aku memutuskan untuk melawan. Meski berangkat ke sekolah serasa seperti di neraka, tapi bagiku tiada lagi tempat yang ingin kutuju selain gedung sekolah. Aku pun melawan dengan “dibantu” oleh seganggang sapu atau kemoceng. Setiap kali “ritual” itu terjadi, aku selalu mengayunkan sapu itu tak peduli mereka terkena atau tidak, hingga akhirnya semua ini berakhir.
Berakhir mungkin hanya untuk kejadian “ritual berbaris”. Selanjutnya ada satu kejadian yang takkan pernah sanggup aku lupakan, mungkin hingga aku sudah tua nantinya. Waktu itu, saat jam pelajaran tengah berlangsung, seorang teman entah saat itu ada kejadian apa, yang aku ingat adalah dia dengan suaranya yang keras menjelek-jelekkan orang tuaku di depan teman-temanku. Dia ungkit masalah di rumahku yang sudah dia dengar dari kabar-kabar yang berhembus. Dia sebut orang tuaku, dia keluarkan kata-kata kotor, lalu dia acungkan jarinya menuduhku dengan fitnah yang kejam. Semua mata mengarah padaku, tangisku pecah bak gelas yang terlempar dari ketinggian. Satu hal lagi yang membuat hatiku hancur, selain teman-temanku yang kebanyakan hanya diam, adalah guruku yang juga hanya menjadi penonton. Dalam kejadian itu, ada 3 wajah yang sangat kuingat. Satu adalah wajah temanku yang melakukan penghinaan itu, dua adalah wajah guruku yang bak patung tanpa ekspresi dan perasaan, tiga adalah wajah temanku yang membelaku, bahkan kalimat yang ia ucapkan aku ingat betul. Dialah yang membuat cuplikan peristiwa ini berhenti.
Yah bullying, pasti akan membawa kenangan buruk bagi setiap orang yang merasakannya. Datang bersamaan dengan bullying adalah rasa tak percaya diri, membenci, dan menutup diri sendiri. Aku beruntung, sungguh aku bersyukur karena aku “terselamatkan”. Pada babak selanjutnya perjalanan hidupku, aku menjadi si pemberontak. Kebencian telah membebaskanku dari rasa takut.
Meski begitu, suatu hari nanti jika aku telah menjadi seorang ibu, aku takkan tinggal diam jika anakku melaporkan bahwa dia telah dibully. Setidaknya seperti yang kurasakan, aku harus tahu dan tersadarkan bahwa aku tidak buruk, aku tak seperti yang mereka katakan. Itu yang akan aku tanamkan pada anakku kelak, karena jika ia telah mengadu sekali dan aku tak meresponnya dengan baik, bisa jadi selanjutnya dia enggan untuk mengadu lagi, dia tahu orang tuanya pun bahkan tak peduli. Itulah yang sempat kupikirkan saat itu, meski akhirnya dengan perjalanan kedewasaan aku sadar mereka kala itu sedang terlupa oleh masalah mereka sendiri.

You May Also Like

1 comments