Dunia Kecil Lia

by - April 19, 2013

                Sore itu angin berhembus dengan sangat lembut, bermalas-malasan mengitari seorang gadis kecil yang sedang bermain di depan rumahnya. Dialah Lia, gadis 7 tahun yang enerjik dan selalu ceria. Jika mendengar suaranya, seperti radio yang berbaterei baru, berbagai ceritapun lancar mengulur dari mulut kecilnya. “Mbak..mbak...kamu bisa kayak gini nggak?” , Lia menarik tangannya ke belakang punggungnya, mengatupkan kedua telapak tangannya, meniru orang yang sedang bertepuk tangan dengan posisi terbalik. Gadis manis itu seperti sedang memamerkan satu jurus baru dari dunia “persilatannya” sendiri. Agar membuat semangatnya tak runtuh, akupun pura-pura tak bisa, walaupun akhirnya kubilang juga, “ Alah..Cuma kayak gitu..!!”Dia tak terpengaruh lagi dengan kata-kataku, terus saja mengulang-ulang gerakannya tadi. Semangatnya sungguh pantas diacungi jempol.

                Di sore-sore selanjutnya, Lia yang tinggal di depan rumahku, sudah bisa dipastikan sedang bermain di depan rumahnya. Seperti memenuhi janjinya pada matahari yang kan terbenam, Lia selalu setia menampakkan dirinya, menyapa langit sore. Orang-orang yang berlalu lalang melewatinya, ada yang melempar senyum ramah, ada yang tak melirik sedikitpun, ada juga yang memperhatikan sejenak, bagi yang kenal memanggil namanya, atau jika temannya dia akan melambaikan tangan. Aku sendiri, jika kebetulan melihatnya, aku Cuma akan bertanya, “Ngapain kamu Nduk?” .  lalu dia akan menjelaskan apa yang dilakukannya, atau jika dia sudah terlampau sibuk, dia akan mengacuhkan pertanyaanku. 

                Seringkali aku hanya melihatnya bermain sendiri. Dia tak punya saudara, hidupnya hanya bersama sang ibu. Tak perlu ditanya dimana ayahnya berada, entah dimana. Ibunya pun, kadang tak sanggup menjadi “ibu” lagi untuk anak manisnya itu. Sang ibu pernah beberapa kali masuk RSJ, sampai sekarangpun kemungkinan kembali ke tempat itu masih ada. Jika itu terjadi, Lia hanya bisa menerima kenyataan dan terpisah dari ibu yang dicintainya itu.

                Pernah suatu kali, penyakit sang ibu kambuh entah oleh apa. Tak ada orang lain yang tahu saat itu, hanya dia dan anaknya yang ada di rumah.  Tak ingin sesuatu yang buruk terjadi antara dia dan anaknya, diapun mengunci pintu rumahnya dari dalam, dan “mengurung” diri di dalamnya. Lia yang polos, ikut “terkurung” dan menurut saja tanpa rengekan. Setelah sekian lama, ternyata kejadian seperti itu sering terulang. Ibuku yang akhirnya tahu, mengambil langkah sekarang. Bila rumah itu terlihat terkunci, ibuku akan datang untuk mengantar makanan, atau setidaknya “menyelamatkan” Lia. Anehnya, adakalanya Lia justru yang tak mau dibantu. Oleh sebuah kekuatan jiwa, Lia telah mampu menanggung beban sebagai anak seorang ibu yang menderita jiwanya. Lia tak mau meninggalkan ibunya saat dia sedang melawan deritanya. 

                Suatu hari, Lia bercerita, “ Kemarin ibuku sakit..” . cerita selanjutnya, sungguh membuatku berdecak kagum. Penerimaannya sangat dewasa, jauh melebihi usianya. Tanpa beban dia bercerita tentang kondisi ibunya. Saat sakit itu melanda, sang ibu hanya mengurung diri di kamar, untuk beberapa lama waktunya. Ah, Lia...kamu membuatku malu jadinya. 

                Sore itu, Lia bermain kincir-kinciran dari kertas. Angin sedang bersahabat dengannya, membuat kincirnya berputar kencang seperti roda sepeda pembalap. Lia senang, dia berlari kecil mengitari halaman rumahnya, ingin kincirnya berputar lebih kencang. Lia tertawa riang, hanyut dalam putarannya sendiri. Sesekali dia meniup kincirnya itu, dan menghadapkan wajahnya pada orang-orang yang berlalu-lalang. Sekali lagi, dia nampak hendak ingin memamerkan kesenangannya itu, seperti ingin bicara, “Lihatlah aku, kincirku berputar kencang.” Ah, Lia...kesenanganmu sangat tulus dan besar..pasti hatimu selembut kapas saat itu.

                Sekali lagi di suatu sore, kulihat Lia sedang bermain-main dengan tanah, sendok, dan piring kecil. Entah karya apa yang sedang dibuatnya, yang jelas sebuah imajinasi hebat pasti sedang hidup di alam pikirannya. Ah Lia, sungguh aku melihatmu dengan teropong hikmah yang mendalam. Bagaimana caramu menyenangkan hati, sungguh aku sedang menjadi “murid”mu saat memerhatikan tingkah polahmu. Bagaimana kamu menjadikan angin dan tanah sebagai sahabat bermainmu. Betapa kamu memberi arti yang lebih pada sesuatu yang sering diremehkan manusia-manusia yang lain. Di hadapanmu, angin dan tanah punya harga yang menawan, bukan sekedar sebuah kebetulan alam.
               

               

You May Also Like

0 comments