kelinci kecil 1

by - April 09, 2013


Kelinci kecil, itulah caraku menyebutkan bagaimana aku saat masih anak-anak. Bagian ini, bagian aku menjadi kelinci kecil adalah awal pertarungan hidup yang tak sekedar meninggalkan kenangan masa kecil, namun juga menjejakkan kenangan perjuangan. Ah mungkin anak kecil tak mengenal arti perjuangan yang sesungguhnya, tapi aku sangat ingat bahwa masa kecilku penuh dengan gejolak, dari keluarga, lingkungan, dan teman-teman sekolah. Aku berdiri di tengah-tengah lingkaran itu, meski sulit, aku bertahan. Itulah perjuanganku, bertahan!
Ya, aku adalah si kelinci kecil yang tak mudah ditangkap, tak ingin banyak orang mengganggu, cukup melihatku saja berlarian, tapi jangan sering mendekat. Namun, aku juga bukan angsa yang sangat tidak suka jika ada yang mendekat. Aku hanyalah kelinci kecil yang senang berlarian, menggali tanah dan berlompatan.
Suatu hari, si kelinci kecil merasa sangat ketakutan karena dia dicari-cari oleh salah satu orang tua temannya. Ia pun bersembunyi di rumahnya dan mengunci rapat-rapat mulut dan kakinya. Saat sang orang tua telah di depan rumah, kebetulan tak ada orang dan hanya ia sendirian, maka diamlah ia seribu bahasa hingga pergilah orang tua itu.
Kelinci kecil pun sadar perbuatannya kemarin sungguh telah menyulut kekesalan temannya. Waktu itu, si teman yang selalu merasa menjadi “raja” di antara teman-teman yang lain “mengharuskan” aturan permainan saat jam istirahat tiba. Bersenjatakan ancaman bahwa yang tidak mengikuti aturannya akan diadukan ke orang tua, semua siswi pun akhirnya tunduk. Nah, karena kelinci kecil ingin berlarian sendiri, ia pun menjadi sasaran sang teman “penguasa”.
Oh kelinci ketakutan, karena bukan hanya sekali saja ia pernah diadukan ke orang tua temannya. Ada lagi ibu seorang teman yang pernah menegurnya dan berkata “ Hey, nduk jangan nakal sama anakku ya…”. Meski akhirnya sang teman menjadi sahabat di kelas berikutnya. Ah…si kelinci mungkin memang nakal, bandel, dan ingin berlarian. Ia senang dengan angin yang berhembus saat ia bergerak kencang, ia hanya ingin bermain tanpa beban. Beban? Ya…ia ingin melupakan bahwa di rumahnya, sebuah tragedy sedang terjadi..

You May Also Like

0 comments