berhentilah bertengkar

by - Mei 02, 2013

Seorang anak yang mendengar orang tuanya bertengkar akan menyimpan banyak pertanyaan dalam benaknya. Beberapa hari ini aku mendengar berita tentang anak yang melakukan tindakan criminal, setelah diselidiki ternyata ia sering mendengar orang tuanya bertengkar. Memang aku tak bisa langsung menghubungkan dua peristiwa itu begitu saja, tapi setidaknya ada titik terang yang bisa membantu pencarian jalan keluar.

Setidaknya ini apa yang pernah kualami, beberapa tahun aku hidup dengan mendengarkan pertengkaran orang tuaku. Bukan apa yang mereka ributkan yang aku ingat, tapi bagaimana aku menghadapi mereka saat itu. Kupikir, ini akan menjadi pelajaran yang sangat penting dalam hidupku, karena aku merasa beruntung bisa melewati masa-masa ” itu” dengan cukup baik.

Pertengkaran biasanya dimulai dari perbedaan pandangan, tak ada yang mau mengalah, dan akhirnya keduanya saling meninggikan suara, menajamkan kata-kata hingga mahir mengeluarkan kata-kata menyakitkan yang kian runcing dan menyakiti hati. Tanpa sadar, hilanglah semua kebaikan yang pernah dilakukan atau lupalah atas semua kebaikan orang lain. Pertengkaran baru terhenti saat salah satu ada yang mengalah atau “terpaksa” mengalah. 

Sejauh pengamatanku, pertengkaran tak pernah menyisakan ruang untuk membicarakan jalan keluar. Kalaupun masing-masing sudah mengungkapkan solusi itu hanya akan menyalakan bara api hingga kian membesar. 

Saat orang tuaku bertengkar, entah di depanku langsung atau tidak, aku selalu hanya terdiam. Jika pada satu titik aku tak tahan dengan mereka, aku akan ke kamar mandi atau kamar, tentu saja yang kulakukan hanya satu, menangis. Saat kecil, aku menangis karena merasa dunia telah menjadi tempat yang tidak aman bagiku. Aku menangis karena aku takkan bisa mengajak orang tuaku tersenyum dan berbahagia dengan mereka. Aku menangis karena aku merasa buruk, aku merasa tak pantas menjadi anak yang dicintai orang tuanya. Itu karena aku melihat mereka selalu bertengkar, setiap kali, setiap waktu. 

Aku berlari kecil ke duniaku, menjauhkan diri dari kekacauan yang sedang terjadi. Aku mulai dengan menggambar, menulis, bergerak, dan melakukan apa pun yang bisa. Namun aku sadar bahwa semua itu takkan cukup untuk mengalihkan perhatianku. Kini aku tahu bahwa ada “pertolongan”  lain yang membantuku bertahan saat itu. Pertolongan itu adalah pelukan dan ciuman. 

Bersyukur bahwa tradisi memeluk dan mencium ada di antara kami, aku dan kakak-kakakku. Kami saling berpelukan, setiap saat, membagi kehangatan kasih sayang dan dukungan. Kurasa, itulah salah satu penyelamat terbesar hingga aku mampu memilih jalan yang tak merenggutku sebagai manusia yang bahagia.

You May Also Like

0 comments