Mungkin aku juga bisa jadi seperti Marshanda (contoh judul yang kurang baik..:))

by - Agustus 18, 2014




Kabar tentang Marshanda akhir-akhir ini berhasil mengusik pikiranku.  Bukan karena kegermelapan beritanya yang terlalu diekspos media, tapi karena aku merasa ada kemiripan dengan apa yang kurasakan. Bukan kemiripan nasib dan jalan cerita , tapi kemiripan pengalaman rasa.

Aku berbicara tentang Bipolar, ya…pertama kali aku mengetahui tentang penyakit itu saat membaca kisah beberapa artis Hollywood yang terjangkit Bipolar. Saat itu aku masih remaja dan kupikir, ya bisa saja aku 
terkena Bipolar juga, jika itu adalah tentang perubahan mood yang drastic.

Aku semakin menggali dan menemukan, bahwa pengidap Bipolar memang sangat mudah untuk berbalik arah membenci orang yang dulunya ia cintai. Perubahan mood yang terjadi di antara orang-orang tercinta, justru membuatnya ingin menghindari mereka semua. Bahkan meninggalkannya dengan memunculkan alasan kebencian dan menggali kesalahan-kesalahan yang seolah tak termaafkan. Mungkin sebenarnya ia ingin menjauh karena terlalu takut melukai orang-orang terdekat itu (asumsiku pribadi)

Apa yang mirip denganku?? Pertanyaan itu langsung tertuju saat aku membaca tentang penyakit ini. Hal pertama, aku juga mudah merasakan perubahan mood, meski tak terlalu drastic. Pun aku pernah dan menemukan diriku yang bisa dengan mudah merubah perasaan mencintai dengan membenci. Kini aku bisa semakin menyambungkan benang kusut yang selama ini coba kuuraikan. Pertanyaan mengapa dulu aku begitu? Kenapa aku sulit menghadapi ini dan itu? Apa yang sebenarnya terjadi padaku?

Mungkin, sebelum aku menemukan jawaban yang lebih meyakinkan, inilah mengapa aku sempat berpikir bahwa aku akan kesulitan mendapatkan sahabat sejati. Ada perasaan aneh yang ingin aku buang saat aku sedang memiliki sahabat. Saat aku sedang dekat-dekatnya dan menyayangi sahabatku itu, maka akan semakin mudah pula aku menemukan celahnya, salahnya, buruknya, hingga aku pun akan semakin tajam mencurigainya. Di saat sedang berkumpul dalam keceriaan, saat hati para sahabat mulai bertaut, justru rasa aneh menyerangku dan mengatakan ini bukan duniaku. Mereka bukan sahabatku, bukan orang-orang yang sama dengan pemikirinan atau gaya hidupku. Mereka di luar lingkaranku, mereka bukan bagian dari hidupku. 

Perasaan yang menyergap dan merambat pelan nan pasti itulah yang akan membuatku kebingungan hingga akhirnya tindakan menjauhi atau niatan untuk itu akhirnya muncul, entah dalam bentuk yang baik bahkan tidak sekali pun. Yang tidak, maksudnya adalah seperti aku mulai berperilaku yang tidak menyenangkan, aku jadi menyebalkan dan membuat orang tidak nyaman di dekatku. Ini gejalanya dan pada akhirnya aku akan kehilangan sesuatu karenanya.

Namun, sujud syukur pada Allah atas segala kemurahan Nya. Meski sering sulit menghadapinya, aku masih bisa dikatakan cepat sadar. Aku akan segera sadar dan semakin lama semakin cepat sadar. Kesadaran itu sekaligus membawaku pada titik muhasabah akan dosa-dosaku, dosa penyakit hati yang tersembunyi begitu dalam. 

Kini, aku semakin tahu bagaimana caranya menguasai emosi dan merekayasanya hingga terwujud harmoni yang muncul dari hatiku. Setelah aku renungkan, aku bisa saja menjadi seperti Marshanda selanjutnya jika aku tidak berusaha menjalankan perintah agama dengan baik, benar, dan konsisten. Jika saja dulu ayahku tidak “cerewet” agar aku tidak meninggalkan sholat, jika saja aku tidak menyegerakan memakai jilbab saat SMA, jika saja… Sungguh aku bersyukur, karena di usiaku yang saat ini, ujian hidup juga semakin meningkat, ditambah dengan emosi yang belum stabil tentu kekacauan akan lebih mudah terjadi.

Dengan menjalankan ajaran Islam, aku semakin mudah mendeteksi penyakit hati , hingga akhirnya aku tahu apa yang harus kulakukan agar jalanku kembali lurus. Hikmah mencintai agama Allah ini sangat luas, melebihi luasnya cara berpikir kita yang seliar-liarnya. Di atas langit ada langit, di lapis-lapis peristiwa ada nilai yang Ia titipkan pada kita untuk membuat kita lebih baik. Pada akhirnya, kita menjadi baik pun karena ridho Allah dan hidayah Nya. Kehampaan itu menimpa ruang-ruang kosong yang tak terisi keyakinan yang kuat.

Mungkin Marshanda hanya kurang yakin pada Allah, bahwa kebahagiaan dan kebebasan yang ia agungkan itu sejatinya juga Allahlah yang akan sematkan di hidupnya. Ia mungkin kurang yakin bahwa Allah maha Kuasa atas segala peristiwa dalam kehidupannya. Mungkin saat ini ia merasa merdeka dan bahagia, tapi kerapuhan jalan yang ia tempuh sangat rentan. Bahagia itu bukan pekerjaan seorang diri, ada campur tangan semesta yang seakan menjadi kaki tangan Tuhan. Bahagia dan bebas itu bukan egois. Terakhir, diri kita bukan kita seorang diri, ini adalah ruh yang terkendali dalam lapis-lapis.

You May Also Like

0 comments