Kuliah (lagi) atau Tidak??

by - November 25, 2014





Sejak suamiku  mengambil kuliah strata dua, beberapa orang bertanya, “kamu kapan kuliah s2?”, “kamu ga ingin s2 juga?”. Apakah otomatis kalian harus bertanya seperti itu?. Namun, ada hikmah tersendiri yang aku dapatkan dari peristiwa itu, aku akhirnya lebih mendalami apa yang kuinginkan.
Setelah dipikir-pikir, ternyata dunia akademisi bukan lagi dunia yang menarik buatku. Beberapa tahun yang lalu, aku masih bingung untuk menentukan hal ini. Aku masih merasa bahwa aku bisa mengerjakan semuanya, bukan karena aku hebat, tapi karena aku mudah menyerap dan mempelajari hal-hal yang baru. Sampai aku yakin apa yang sebenarya menjadi spesialisasiku, aku dan banyak orang meyakini aku terampil dalam salah satu bidang.

Saat SMA, seorang guru matematika pernah memintaku untuk membantu seorang mahasiswa jurusan pendidikan matematika dalam penelitiannya. Aku dipilih bersama temanku lain yang pintar matematika. Aku cukup terkejut saat itu, aku merasa matematika bukan keahlianku, meski dalam beberapa kali latihan nilaiku sangat baik. Setelah penelitian itu, matematika benar-benar menunjukkan jati diri yang sebenarnya. Aku mulai tak bisa mengontrol kebingunganku menghadapi soal-soal matematika, akhrnya aku pun malu pada guru matematikaku itu. Murid yang pernah dia banggakan itu sekarang semakin menurun nilainya. Jangankan beliau, aku bahkan tak paham kenapa aku menjadi semakin sulit mengerjakan soal matematika. Ya..matematika memang bukan keahlianku. Mungkin itu jawaban terbaik saat ini.

Saat kuliah, aku pernah mengalami hal yang serupa. Nilai-nilai mata kuliahku cukup tinggi untuk mata kuliah non bahasa Arab. Aku pun sudah dianggap pintar secara keseluruhan. Aku memang tertarik dalam beberapa hal terkait dunia akademisi, tentang penelitian, tentang jurnal, tentang diskusi akademisi. Namun, aku merasa hanya tertarik sesaat dengan semua itu. Aku tak pernah benar-benar tertarik dengan semua itu. Sayangnya itu, aku selalu merasa bosan dengan hal-hal baru itu dan sulit fokus. Anggapan dan harapan orag terhadapku pun menjadi beban berat. Sudah dua kali dosen memintaku untuk terlibat dalam penelitian mereka. Aku juga pernah diminta lomba pidato bahasa Arab. 

Di lain sisi, aku juga saat itu dikenal sebagai “penjual sekaligus designer baju”. Aku menjual baju-baju gamis rancanganku sendiri. Aku benar-benar menikmatinya. Aku senang membuat rancangan baju. Namun, ketika aku belajar menjahit aku merasa kesulitan.
Di lain cerita, aku dikenal juga sebagai seorag trainer yang sudah cukup sering mengisi training di hadapan remaja. Aku sempat berpikir untuk mendalami dunia ini, dunia komunikasi. Namun, aku lagi-lagi gagal fokus.

Kini, jika aku bertanya kembali apakah aku ingin kuliah lagi?? Aku jawab “Tidak”. Akademisi bukan jiwaku, kali ini aku yakin. Meski beberapa tahun lalu, aku masih yakin aku akan lebih hebat dengan menjadi spesialisasi di bidang akademik (jika aku mau). Ilmu saat ini adalah alam dan interaksi antar manusia bagiku. Pemikiran-pemikiran para ahli hanyalah bacaan semata, bukan sebagai tuntunan berpikir. “akademisi” gaya ini yang sekarang kunikmati.

Entahlan. Allah maha tahu

You May Also Like

0 comments