Blusukan Kuala Lumpur Hari Pertama (lanjutan)

by - Desember 16, 2014

Cerita masih berlanjut guys...

Aku masih ingin bercerita tentang penginapan kami, "My Space Inn". Penginapan ini kami pilih karena harganya paling murah, fasilitasnya juga paling mumpuni. Kami memilih kamar yang bisa diisi oleh tiga orang (cukup sulit lho mendapatkan kamar seperti ini). Biasanya, penginapan murah atau hostel menyediakan kamar berisi rombongan, minimal lima orang. Awalnya kami ingin mengambil kamar seperti itu karena lebih murah. Setelah dipikir-pikir, kami kan berhijab, jika sekamar dengan orang asing kami tetap harus memakai hijab. Akhirnya kami pilih yang sesuai jumlah kami. Oya, di penginapan ini ada banyak dekorasi yang memicu semangat berpetualang lho. Semisal begini, " Better to see something once than hear about it thousand times". Kalimat ini seakan "menyihir" para traveller pemula sepertiku dan sahabat-sahabatku. 

Setelah beristirahat sejenak di kamar dan akhirnya bisa mandi, kami melanjutkan perjalanan ke Petronas Tower. Inilah icon Kuala Lumpur yang selalu dijadikan tempat berfoto para pelancong. Di sana, orang-orang dari berbagai negara berkumpul dan melakukan aktifitas yang disebut "nongkrong". Entah kenapa moodku berfoto hilang seiring dengan banyaknya orang berdatangan. Jadilah, Dita dan Tami asyik berfoto sendirian. Akhirnya, inilah foto terakhir kita hari itu.
Aku sempat bertanya, "Apa uniknya menara Petronas ini?". Dari segi arsitektur ini memang unik, apalagi dia dinobatkan sebagai salah satu gedung tertinggi di dunia. Tapi, apa lagi? Menurutku, selain dari segi arsitekturnya, fasilitas penunjangnya juga lengkap. Sangat mudah menuju ke tempat ini. Bahkan bus gratis keliling KL juga dimulai dari tempat ini. Apa lagi ya? hmm... mungkin ini bumbu terakhir dan mujarab yang kupikir jadi senjata utama. Kebanggaan. Ya, kebanggaan masyarakat Malaysia terhadap icon ini adalah kuncinya. Bagaimana pemerintah mempromosikannya juga salah satu mesin pendukung.

Setelah dari menara Petronas, kami menjajal bus gratis yang disediakan pemerintah Malaysia, namanya GO KL bus. Bus berwarna pink ini mengajak kami berwisata metropolitan, menyaksikan "kegagahan" Kuala Lumpur dalam peraduan gedung-gedung mewah nan megah. Apalah yang membedakan dengan Jakarta? Lagi-lagi aku berpikir untuk membandingkan. Pertama, kerapihan, kedua, kebersihan. Memang bukan hanya itu, tapi menurutku itu cukup jadi pembeda yang terbesar. Kuala Lumpur nampaknya juga lebih traveller friendly. Daripada di Jakarta, di sana lebih banyak orang asing "berkeliaraan" di jalan. 
Puas menjajal bus gratis, kami kembali ke stasiun dan menaiki MRT menuju ke pasar Seni. Kami berharap menemukan banyak hal unik di sana.  Ternyata benar, sejak memasuki halaman pasar, kami melihat pertunjukan teater (bela diri). Saat kami mulai duduk dan menunggu atraksi dimulai, para lakon sedang berlatih. Semuanya laki-laki, memakai pakaian ala pendekar berwarna hitam. Lama kami menunggu tak kunjung dimulai, di panggung mulai bertengger wayang-wayang yang sedikit berbeda dengan di sini. Dari gerak geriknya, aku sudah membaca, ini bakalan nggak seru, dari musiknya, gerakan-gerakan lakonnya. Aku langsung bergumam, "Untuk urusan seni, Indonesia juaranya"

Malam belum berakhir, kami memasuki pasar yang dari luar sudah menampakknya "kecantikannya". Deretan souvenir unik berjejeran dan beraneka warna sangat mencolok mata. Bagiku pecinta barang-barang unik (meski ga penting) nan warna warni, ini sungguh menggoda sekaligus menyebalkan. Uang sakuku tidak akan bisa memuaskan keinginanku membeli barang-barang yang kusukai. Aku senang di pasar ini, satu toko menyediakan berbagai macam jenis design yang unik dan kreatif. Yang paling aku suka adalah benda-benda bernuansa Thailand alias si gajah yang lucu dan warna warni.

Lelah berkeliling, kami menutup malam itu di pasar seni dengan makan di restoran khas masakan Malaysia. Di antara makanan khas yang disediakan, kami tetap memilik makanan yang familiar, nasi gorang dan mie goreng. Kupikir rasanya akan sama, ternyataaaaa... ya Ampuuun, ampun deh, sekali gigit berasa digigit balik sama makanan itu. Menurutku, perpaduan bumbunya seperti melihat orang yang pakai baju nggak nyambung dan norak berada tepat di depan kita dan kita nggak bisa menghindarinya. Aneeh, super aneh. Bukannya nggak enak, mungkin lidah kami yang lelah..
Akhirnya,itulah penutup pada cerita blusukan hari pertama di Kuala Lumpur saat ini. Ditutup dengan foto Tami yang mencoba menikmati nasi goreng di depannya. Aktingnya bagus bangeeett..:)

Nanti akan lanjut day 2 ya..

You May Also Like

0 comments