Buah Tangan Terbaik (Catatan Perjalanan dari Kasepuhan Sinaresmi, Sukabumi)

by - Desember 29, 2014

Hari sabtu di tanggal 20 tentu jadi hari sabtu yang cukup menyedihkan bagi para karyawan yang gajian tiap tanggal 25. Seperti halnya aku. Namun, tanggal 20 Desember kemarin sungguh berbeda dengan tanggal-tanggal yang lain. Awalnya aku sedikit tidak berniat saat diminta hadir di acara kantor ke Sukabumi, namun dengan paksaan sebuah "energi" entah darimana, akirnya aku berangkat juga.

Sebelumnya aku sudah mendengar dari teman-temanku bahwa perjalanan yang akan kutempuh minimal akan berjalan selama lima jam. Oke baiklah, aku sudah terbiasa dengan perjalanan jauh, namun masalahnya di hari sebelum aku berangkat, aku baru bisa tertidur pukul 01.30 pagi. Lagi-lagi, "energi" entah darima itulah yang mendorongku untuk tetap "on".

Perjalanaku ke Kasepuhan Sinaresmi, Cisolok, Sukabumi ini adalah dalam rangka mengantar donatur dan para blogger untuk menyaksikan sendiri jalannya program Dompet Dhuafa di sana. Waktu itu, kami membawa 17 orang rombongan dari Jakarta yang dibagi menjadi dua grup di dua mobil elf.

Sebelum sampai di lokasi, kami menyempatkan diri mampir ke Pelabuhan Ratu (satu lagi tempat baru yang akhirnya kukunjungi). Tak banyak waktu kami habiskan di sana, hanya untuk makan dan sholat, sambil berfoto di tengah rintikan hujan saat itu. Aku beruntung bisa menyaksikan pantai yang menurutku masih cukup bersih beserta juga lingkungannya yang cukup terawat. Jauh berbeda dari Muara Angke yang kalo aku sebutkan dengan bahasa Jawa benar-benar "mrepeti mripat".

Dari Pelabuhan Ratu, perjalanan kembali berlanjut, meski para peserta sudah banyak yang merasa mual dan pusing karena medan jalan yang berliku. Namun, sesampainya di lokasi, rasa lelah, muntahan, dan kepusingan rasanya lenyap. Melihat Kampung Kasepuhan Sinaresmi dari kejauhan telah menitikkan secercah kekaguman bagi kami.


Sesampainya di lokasi, kami langsung disambut dengan kesenian lokal, Dog-Dog Lojor, semacam permainan lesung oleh para wanita yang menghasilkan irama yang indah. Di depan rumah Abah (ketua adat Kasepuhan Sinaresmi), peserta pria dipasangkan ikat oleh Abah.

Oiya, daritadi menyebut nama Abah, sampai lupa mengenalkan siapa itu Abah. Abah adalah ketua adat Kaepuhan Sinaresmi di Cisolok, Sukabumi. Bersama dengan Ambu (istri Abah), Abah memimpin Kasepuhan yang masih menjunjung tinggi adat khususnya di bidang pertanian.

Pertanian, ya pertanian menjadi fokus pembicaraan selanjutnya. Dompet Dhuafa akhirnya "masuk"dan memilih melakukan program pertanian di Cisolok ini karena nilai-nilai yang patut dikembangkan di sana. Ada puluhan jenis beras yang tumbuh di Kasepuhan Sinaresmi, ada beras ungu, beras kuning, beras merah, dan beras hitam. Kekayaan varietas jenis beras ini telah menjadi bagian kehidupan warga, namun sayang mereka belum sadar pentingnya arti keberagaman jenis beras yang tumbuh di lahan mereka itu.

Abah bercerita kepada kami, sudah banyak orang luar negeri datang ke Kasepuhannya untuk meneliti keragaman beras di sana. Bahkan ada yang bersedia mendanai berapa pun yang Abah minta, agar dibolehkan "bereksperimen" dengan beras-beras itu. Sadar bahwa, beras-beras itu adalah "kekayaan" negeri ini, Abah menggagalkan upaya-upaya yang bisa menimbulkan hilangnya identitas asli beras-beras itu. 

Satu pernyataan Abah yang masih terngiang dalam benakku sampai saat ini adalah;

" Bagi warga Kasepuhan Sinaresmi, Langit adalah ayah, sedangkan ibu adalah tanah. Maka, apakah kita tega jika kita meminta ibu kita melahirkan dua kali dalam setahun?" Sambil tersenyum dan menampakkan aura bijaknya Abah menjelaskan kepada kami dengan aksen Sundanya.

Pernyataan Abah di atas menjawab pertanyaan, mengapa hanya ada satu kali panen di Kasepuhan Sinaresmi. "Wooo.."Aku berdecak kagum dalam hati. Sungguh di tengah gempa gempita dunia, masih bisa aku mendengar jawaban semendalam itu.

Selama berada di Kasepuhan Sinaresmi, aku secara khusus belajar tentang bersyukur, arti tak serakah dan menghargai sebuah proses. Tiga hal besar yang sebenarnya sulit dikombinasikan bersama. Sayangnya, aku baru sedikit belajar, hingga setelah kembali k kota, aku belum merasakan "energi" yang datang untuk meneladani Abah dengan kebaikan-kebaikannya.

Di Kasepuhan Sinaresmi, beras yang siap dipanen akan dipanen dengan cara dipetik langsung dari pohonnya, lalu diikat, dan ditumbuk dengan lesung. Kita sudah bisa membayangkan, prosesnya pasti akan sangat lama. Namun, itu belum seberapa, mereka masih harus mengikuti beberapa pakem adat yang akhirnya beras setelah panen baru bisa dimakan tiga bulan setelahnya. Mereka lalu menyimpannya di lumbung padi bersama. Hasil kerja keras menanam padi organik, melewati lembah dan jalan terjal, proses yang lama, dan produktivitas yang minim masih harus diikuti dengan kesabaran menikmati hasil panen. Ada makna di sana, yang dengan kesadaran penuh ingin Abah tanamkan pada warganya. Makna akan tak serakah, akan menghargai hasil panen dengan merawat sebaik-baiknya padi-padi yang ditanam, dan makna kesabaran. 

Hah...ada banyak lagi kisah di sana. Jika aku urai, rasanya tidak cukup puas tanpa mendengar langsung penjelasan dari Abah. Caranya menjelaskan kepada kami akan proses pertanian dan kehidupan di Kasepuhannya membuatku semakin yakin, bahwa dimana saja orang yang berprinsip selalu memenangkan dunianya. Ia tak perlu pengakuan dunia, karena dunia telah mengakuinya.
Yah, itulah oleh-oleh dariku dari Cisolok, Sukabumi. Semoga aku masih berkesempatan menjumpai orang-orang hebat dalam sebuah perjalanan, karena itulah buah tangan terbaik yang selalu kuinginkan.....

You May Also Like

0 comments