I Have My Own Way

by - Desember 10, 2014



Kemarin, setelah mendengarkan materi dari Tung Desem Waringin, aku langsung merasa tersentil. Dia bilang, orang yang umurnya lebih panjang, lebih produktif adalah yang lebih sering menulis tentang hal-hal yang membahagiakan dan menyenangkan. Memoriku langsung mengarah ke tumpukan buku diary yang sudah menemaniku sejak SD. 

Buku-buku itu seakan berwarna kelabu oleh isinya. Rata-rata aku menulis diary sambil menangis dan sesenggukan. Aku lebih sering menulis hal-hal yang mengusik pikiran dan hati, daripada ungkapan kebahagiaan. Aku bukan orang yang mudah mengungkapkan hal-hal ceria nan sederhana yang bisa menyenangkan banyak orang. Tanganku ini tak lihai mengungkapkan keceriaan karena yang berselimut dalam pikiran dan hatiku adalah kabut tangis, lara, dan perjuangan. Entah, bahkan aku merasa aneh jika aku mulai memikirkan hal-hal yang lucu dan ceria untuk ditulis. Aku lebih suka tragedi dan misteri. Parahnya, kadang aku berpikir bahagia itu sendiri ada dalam kesedihan. Aku terbiasa sedih, kadang menikmatinya. Menangis sepuasnya, lalu berpikir sejenak dan kembali tertawa. Aku merasa tak pernah terlalu tertawan oleh kesedihan. Aku tak takut sedih, karena aku selalu menemukan jalan setelah menangis. 

Satu hal lagi yang selalu membuatku mundur saat menulis kisah yang riang, seringkali aku takut melanjutkan tulisanku, aku khawatir apa yang kutulis itu semu. Aku takut saat menulis tentang kebahagiaan, kebahagiaan itu ternyata tidak seperti yang kubayangkan. Aku pernah beberapa kali terhenti dan bertanya, " apakah aku sebahagia itu?", " benarkah itu hal yang menyenangkan?". Mungkin di sinilah masalahnya, titik dimana apa yang dikatakan TDW bermula. Titik yang digunakan ahli psikologi menemukan penemuan ini. Namun, aku bukan korban yang lantas perlu diperhatikan. Aku masih punya cara lain untuk mengekspresikan kebahagiaanku. Tak habis akal aku mengungkapkan bahagia. Kadang ideku sangat sederhana dan itu membuatku bahagia.

Entahlah, apakah orang merasa aneh membaca tulisanku ini. Lewat tulisan ini, aku juga ingin berkata pada diriku, tak apa aku berbeda. Dan aku pun mulai melupakan kata-kata Tung Desem Waringin. Caraku menulis adalah caraku menemukan jalan, mencari kenyamanan. Apakah itu kisah bahagia atau sedih, selagi aku terobati aku akan terus menulisnya. 

You May Also Like

0 comments