Traveller by Job (part 1)

by - Desember 31, 2014

Tak terasa sudah di penghujung tahun 2014, waktu seakan berlari ke depan. Mungkin tak sesingkat itu, sebagaimana kata kebanyakan orang "rasanya baru kemarin awal tahun 2014". Sepanjang tahun ini tetap terasa, hanya saja cepatnya ia berlalu mungkin disebabkan oleh banyaknya hal sudah terjadi di tahun ini. Tahun ini sungguh berwarna, ada loncatan-loncatan tak terduga beriring tangis dan tawa.

Kali ini, aku akan mengambil bagian dari perjalanan-perjalanan yang kulakukan di tahun 2014. Perjalanan- perjalanan yang kulakukan karena pekerjaan. Yeah..that's who i am this year, a traveller by job. 

Garut

Diawali dengan saat datangnya tahun 2014. Di awal tahun aku melakukan perjalanan ke Garut, menjadi penanggujawab atas seminar charity di sana. Aku ke Garut bersama dua tim dari kantor menempuh perjalanan kira-kira 4-5 jam. Kami berangkat tanggal 4 Januari dalam suasana libur panjang tahun baru. Sesampainya di Garut (Cipanas tepatnya), kami langsung mencari hotel untuk pembicara seminar dan untuk kami sendiri. Salah satu hotel yang paling direkomendasikan di Garut selain Telaga Sampireun adalah Sumber Alam, semuanya mengambil tema alam dan tradisi. 

Semua hotel yang menawarkan keindahan alam di hotelnya memang benar-benar indah sesuai yang mereka promokan, namun bagiku itu seperti mutiara yang terdampar di sungai yang keruh. Keindahannya tak menular ke lingkungan sekitar. Jalanan yang rusak, pemandangan sekitar yang tak terawat kebersihannya, dan fasilitas layaknya tempat wisata umumnya yang belum terakomodasi. Sayang sekali...aku justru merasa hadirnya banyak hotel di sana tanpa tata letak yang jelas merugikan keuntungan pariwisata jangka panjang di wilayah Cipanas. 

Balikpapan dan Samarinda

Sepenggal kisah di Garut berulur sambung dengan perjalanan ke Balikpapan dan Samarinda. Masih dalam rangka yang sama, penanggungjawab event Seminar. Acara pertama dilaksanakan di Samarinda. Dari Jakarta aku bertolak ke bandara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur. Kala itu, sekitar bulan Maret, Bandara ini sedang berbenah dengan konsep one stop entertainmentnya. Saat ini bandara Sepinggan sudah cantik. 

Dari Balikpapan aku menuju ke Samarinda dengan menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam. Saat panitia lokal menjemput dan bilang aku harus ke Samarinda naik taksi sendiri, aku cukup kaget. Di tempat yang baru kuinjak dan tak pernah ada bayangan seperti apa kota ini, aku diminta jalan sendiri dengan taksi. Oke..find, there's no way out. Akhirnya, bersama Bapak supir taksi yang berasal dari Sulawesi aku beranjak dari Balikpapan ke Samarinda. 

Pemandangan di sepanjang jalan, seperti yang sudah terbayang akan Kalimantan, hutan tentunya. Beberapa kali kami melewati jalan yang kanan kirinya hutan dan benar-benar hanya kami yang ada di jalan itu dalam radius 2-3 km. Aku sempat khawatir, hingga tak berani memejamkan mata, meski sangat mengantuk. Namun, saat pak supir minta berhenti di jalan dan dia membeli makanan, akhirnya kekhawatiranku sedikit sirna. Si Bapak itu rupanya ngantuk dan ingin "ngemil", maka belilah ia beberapa bungkus kacang dan sebagiannya dibagikan untukku. Alhamdulillah...

Di jalan, bapak bercerita bahwa rumah-rumah panggung yang masih terlihat di pinggir jalan itu adalah rumah penduduk asli Sulawesi. Dia juga bercerita, di Kalimantan ini sebenarnya tidak ada bahasa daerah asli yang masih digunakan kebanyakan masyarakat, rata-rata mereka sudah menggunakan bahasa Indonesia. Si bapak sendiri berbicara dengan aksen dan bahasa Sulawesi. Sebenarnya banyak lagi cerita tentang budaya dan banyaknya orang Sulawesi mengadu nasib di Kalimantan, namun karena bapak sepertinya sulit beradaptasi dengan bahasa Indonesia yang bisa dimengerti, aku hanya bisa mengangguk dan "mengiya", tanpa tahu isi semua obrolannya.

Sesampainya di Samarinda, kita akan disambut dengan sungai Mahakam yang membentang indah, di tepiannya dibangun taman-taman dengan dekorasi yang ala-ala kartun yang menyenangkan untuk anak-anak. Andai ada sedikit sentuhan artistik khas Kalimantan pasti akan lebih indah. 

Kota Samarinda adalah kota yang cukup besar dan ramai. Mereka juga sudah mengenal macet, karena beberapa ruas jalan memang selalu macet. Dilihat dari tata kotanya, sepertinya masih ada PR tentang kesemrawutan dan kebersihan kota. 

Setidaknya, ada oleh-oleh foto di Masjid Islamic Center Samarinda yang menurutku adalah masjid paling indah yang pernah aku lihat di Indonesia, selain Masjid Kampus UGM yang selalu membekas di hati.:)

Masjid ini menghadap langsung ke Sungai Mahakam. Semoga dengan adanya masjid ini yang sudah pasti nampak indahnya, akan membawa keberkahan bagi Samarinda yang telah mensukseskan hadirnya masjid ini. 

Tentu juga, yang suka nongkrong di tepi sungai, semoga tidak ada yang macam-macam ya, malu iih sama masjidnya yang agung, apalagi sama yang Maha Melihat.





Seusai dari Samarinda, aku merapat ke Balikpapan. Kota ini sudah mencuri hatiku sejak pertama menginjaknya. Kesan pertama, seperti kebanyakan orang adalah bersih dan rapi. Just info, beberapa waktu lalu Balikpapan memenangkan penghargaan dari Invitation to the for 3rd ASEAN Environmentally Suistainable Cities (ESC) Award and the 2nd ASEAN Certificates of Recognition with the Following Details, yang berlangsung di Loa Plaza Hotel, Laos.

Tentu itu pantas untuk Balikpapan, kebersihan yang terjaga di sana seakan sudah tertanam pada semua warga dan pengunjung. Semua jadi senang merawat kebersihan dan menularkannya pada orang lain. People power memang menjadi kunci penting menjaga nilai-nilai kebaikan pada satu wilayah.

Senangnya lagi, aku dengar bahwa di Balikpapan tidak boleh ada minimarket yang menjamur di hampir seluruh wilayah di Indonesia, si al*****art dan in****art. Saat aku tanya alasannya kenapa, katanya Pemimpin Balikpapan tidak ingin ada toko 24 jam. Bagiku, itu terasa lebih dari sekedar tidk ingin ada toko 24 jam, tapi itu terasa seperti menjaga keberlagsungan UKM warga setempat.

Nah, di Balikpapan yang katanya biaya hidupnya mahal, aku mencoba cari tahu. Di malam seusai pekerjaanku beres, aku jalan-jalan sendiri di sekitar hotel menjajal makanan si sekitar. Ternyata tidak, harganya beda tipis dengan yang di Jakarta. Yah..itu eksperimen kecil sih, mungkin aku hanya beruntung saat itu. Semoga aku berkesempatan ke Balikpapan lagi, aku akan sangat senang.

Selanjutnya masih ada empat kota Sumatra; Padang, Palembang, Medan, dan Aceh.

bersambung...

You May Also Like

1 comments