Jumawa Itu Membodohkanmu (refleksi membaca buku M.Assad)

by - Januari 27, 2015

Awalnya aku tidak terlalu bersemangat menerima buku itu. Aku senyum senang saat menerimanya hanya karena dapat buku gratis. Buku itu bukanlah salah satu daftar buku yang ingin kubaca atau kubeli. Saat mas Assad menawarkanku mengambil salah satu bukunya aku asal menunjuk buku Notes From Qatarnya yang kedua. Aku suka warna covernya, hitam dan gold, itulah pertimbanganku mengambil buku itu. Tanda tangan sang penulis dibubuhkan pada buku itu. "Itu bukan jaminan buku itu akan segera kubaca dan kubabat habis", ucapku dalam hati.

Sungguh aku jumawa. Aku sadar akhir-akhir ini aku terlalu sombong saat akan membaca buku. Terlalu merasa buku ini itu biasa saja, "udah pernah ketemu penulisnya, orangnya biasa aja", "pasti isinya gitu-gitu aja", itu komentar sombongku saat akan membaca buku. Akhirnya, di tahun 2014 tak ada satu pun buku yang aku habiskan. Sepanjang tahun!!! sungguh menyedihkan. Aku merasa ada kemerosotan kualitas diri karenanya. 

Begitu pula saat menerima buku M.Assad ini, Notes From Qatar 2. Buku NFQ pertamanya nya aku pernah baca. Menurutku biasa saja, hanya pengalaman menarik seorang pemuda berprestasi. Aku abaikan saja sampai tak selesai membacanya. Saat aku bawa pulang, buku ini aku tumpuk di atas buku Paulo Coelho yang belum juga selesai aku baca. 

Di hari itu, buku ini mengusikku, setelah seharian aku selesai mengerjakan semua tugasku dan tak ada lagi yang ingin kulakukan. Lalu, aku buka-buka buku ini, seperti biasa aku selalu melakukan screening dulu sebelum membaca buku. Tak ada yang terlalu istimewa awalnya, hingga akhirnya aku coba membaca satu per satu babnya.

Oke..aku menulis ini bukan untuk membuat review buku Assad itu, aku bukan ahlinya membuat review buku. Ini adalah peringatan untuk diriku sendiri. Ternyata, buku yang tadi awalnya aku sok remehkan habis aku baca dalam waktu dua jam. Tak ada jeda aku membacanya hingga akhir dan akhirnya terpikir untuk menulis ini. Banyak hal yang aku petik dari buku itu. Tak lagi aku akan mengusik diriku dengan adanya kisah-kisah yang pernah aku dengar dari buku itu, tapi energi apa yang aku serap dari buku itu. Aku tak lagi ingin terjebak pola berpikirku yang sudah menjadi technical minded.

Aku rasa dan yakin bahwa saat menulis buku itu, Assad dalam kondisi "terbaiknya". Aku mencatat rasa yang terbawa dari buku itu, sebuah energi positif dan tuntunan yang sangat jelas. Apa yang ditulis mungkin pernah kita jalani, namun kadang kita tak tahu bagaimana cara "ramuan" itu berjalan karena kita tak melakukannya dengan melengkapi semua piranti-pirantinya. Tak ada yang terasa cukup sulit untuk dilakukan dari apa yang coba Assad "ajarkan" kepada pembacanya. Tak ada semacam tantangan-tantangan yang disodorkan ke pembaca yang membuat kita terasa seperti ditelanjangi. Bukankah buku-buku motivasi saat ini biasanya seperti itu?? Menjadi seperti buku misterius yang sepertinya sulit dijangkau dan dibumbui dengan tantangan-tantangan kepada pembacanya. Itulah yang saat ini sering kurasakan, hanya perasaaanku saja mungkin..:)

Terlebih dari itu, ini memang momentual sekali. Allah sengaja mengatur ini semua karena mulai melihat pergerakanku yang memundur. Buku ini sudah dijodohkan denganku. Buku-buku yang lain juga bisa berarti begitu bagi yang lain. Jadi, seperti kata temanku, terapkan teori setengah isi setengah kosong, memandang sesuatu dengan cara yang lebih luas dari berbagai aspek sudut pandang. Jumawaku karena merasa aku adalah anak sastra dan merasa sudah tahu seluk beluk buku motivasi membuatku lupa mengosongkan "gelasku". 

Now...last but not least. Terima kasih untuk mas Assad atas buku ini...Akhirnya sekarang aku berazzam untuk membaca buku minimal satu bulan satu buku dan sudah tercantum sebagai salah satu resolusiku di tahun 2015.



You May Also Like

2 comments