Traveller By Job (part 2)

by - Januari 21, 2015

Perjalanan selanjutnya ke empat kota besar di Sumatra aku siapkan dengan membeli tas ransel baru. Bukan karena tidak punya tas ransel atau beli tas yang lebih bergaya backpacker, tapi aku beli tas ransel beroda. Ya, setidaknya ini sedikit mengurangi beban, selain 'beban' pekerjaan yang kukerjakan. Jadi pekerjaanku ini adalah pekerjaan yang sedikit mengusik nikmat perjalanan. Aku harus kembali ke kantor dengan membawa hasil lebih dari yang kami keluarkan. Beda dengan teman-teman lain lintas divisi. Ada yang keluar kota hanya untuk berbagi pengalaman, ilmu, dsb. Inilah fundraising, pekerjaanku.

Padang

Awal Maret aku ke Padang, sendiri berangkat dari kantor. Sama seperti saat ke Balikpapan, aku diminta naik taksi sendiri ke kantor. Kali ini aku sudah tidak terlalu khawatir. Jalanan yang kulewati dari bandara di Padang ke penginapanku cukup ramai. 

Aku menginap di hotel Sriwijaya, salah satu hotel syariah di Padang. Letak hotelku berada tak jauh dari pantai Padang. Awalnya aku tak tahu bahwa hotelku itu dekat dengan pantai. Selepas pekerjaanku selesai, rekan kerja di cabang mengajakku keliling kota Padang. Aku diajak melewati hotel Ambalang yang dulu hancur karena gempa bumi. Sepanjang jalan, ada rasa ganjil yang aku rasakan dari pemandangan sekitar kota. Ternyata..sama seperti di Balikpapan, tidak ada minimarket bercorak putih biru merah yang menjamur di Jawa umumnya. Aku jadi merasa, sebuah kota terasa lebih original tanpa adanya minimarket dan warung sejenisnya yang menjamur di Indonesia, khususnya Jabodetabek.

Saat melewati pantai Padang, rekan kerjaku beberapa kali mengulang bahwa nanti aku akan melihat fenomena luar biasa dari sebuah kota yang dikenal religius itu. Dia meyakinkanku bahwa aku akan terkejut melihatnya, sesuatu yang tak dapat ditemukan di tempat lain. Aku bertanya-tanya, masih jauhkah tempat itu? Katanya sebentar lagi. Hingga akhirnya kami berhenti, karena temanku akan membeli ikan segar.

Pemandangan sekilas dari pantai itu hampir mirip-mirip dengan pantai pinggir kota lainnya di Indonesia, kurang teratur, tenda biru dan sejenisnya berkeliaraan di mana-mana, sampah betebaran, dan minimnya fasilitas umum.

Keasyikan ngobrol, temanku melewatnya janjinya untuk menunjukkan "fenomena" di kota Padang itu. "Yah..." gumamku. Aku mencoba memburu lewat kaca jendela, tapi ternyata kami sudah terlewat cukup jauh. Akhirnya aku hanya disuguhi cerita. Jadi, di pantai itu, ada satu spot di mana ada sekumpulan "warung remang-remang" dalam bentuk payung raksasa seperti warung-warung biasa yang sengaja dipendekkan sehingga menutupi semua isinya. Sulit membayangkan ya? Intinya, apa yang terjadi di dalam "tenda" itu adalah sesuatu yang ingin disembunyikan dari penglihatan semua orang. Apakah itu? Masih belum mengerti juga? Aku tambahkan clue ya, "tenda" itu akan ramai di malam minggu, penuh berjejalan para muda-mudi. See now? Mengerikan bukan..Hey, itu dipinggir jalan loh tempatnya...Rahasia umum semacam ini sungguh menyesakan dada..



Pengalaman itu, semakin memacuku untuk lebih banyak berbuat, entah bagaimana caranya. Aku sudah tak menerimanya sejak dalam hati dan pikiran, minimal ini usahaku memerangi kebatilan.

Padang tak hanya meninggalkan cerita kelam, aku kagum dengan keorisinilan kotanya. Gaya bangunan yang masih merujuk pada rumah khas Padang, sangat indah dipandang. Soal rasa makanan, tak perlu ditanya lagi, kota ini masuk jajaran kota dengan makanan terenak di Indonesia.

Palembang

Palembang..mendengarnya aku teringat oleh kakak iparku yang asli dari sana. Awalnya aku belum terlalu bisa membayangkan, perbedaan mencolok antara kebudayaan Padang dan Palembang. Dari segi bahasa, kedua kebudayaan ini hampir sama (terdengarnya).

Sesampainya di Palembang, aku langsung menuju ke hotel. Alhamdulillah aku bisa menginap di hotel syariah lagi, namanya Hotel Grand Duta Syariah. Ini salah satu hotel yang paling aku sukai selama perjalananku. Selain karena hotel ini "bersistem" syariah , kamar besar nan wangi, juga karena makanannya yang enak.

Selama mengerjakan tugas bersama tim, aku jadi tahu bahwa kebiasaan makan pempek dan "minum" cuka bagi warga Palembang sudah seperti kebiasaan orang-orang Jabodetabek pada umumnya yang doyan sekali makan gorengan. Setiap kali rapat panitia, suguhan kami pempek. Pagi-pagi sarapan sebelum acara, lagi-lagi makan pempek. Jika di tempatku, cuka pempek cukup dicocol-cocol saja, tapi di asalnya sana cuka pempek itu diminum pakai gelas. Aku sempat mules melihatnya..:)

Dalam tiga kali perjalananku ke Palembang, moment saat makan di River Side mungkin jadi moment paling menyenangkan. River Side adalah restoran terapung di pinggiran Sungai Musi. Bisa dibayangkan kan, view yang bisa dinikmati dari tempat ini. Bukan hanya tempatnya yang amazing, makanannya yang disajikan juga amazing. Untuk urusan harga, menurutku ga mengagetkan ko. Aman terkendalilah..


Maka, Palembang akhirnya aku putuskan untuk mendapatkan award kota dengan makanan terenak dalam rangkaian perjalanan dinasku. Selalu ada banyak pilihan di saat waktu makan tiba. Aku sudah mencicipi pempek dari harga 800 rupiah sampai puluhan ribu satuannya, ikan pindang berbagai macam bumbu sudah dicoba, kue srikaya sudah, tekwan, mie celor, "ramesan" ala Palembang, dan masakan-masakan yang lain membuatku selalu rindu Palembang, khususnya saat waktunya makan. :p

Namun sayang aku juga mendengar kabar kurang menyenangkan dari kota eksotis ini. Mendengar kabar dari teman, bahwa pembangunan beberapa gedung bertingkat baru, termasuk mall dan hotel, dengan terpaksa akan  "menggusur" beberapa aset budaya. Semoga itu tidak terwujud... Tolong posisikan juga pemerintah sebagai pendatang seperti saya, seorang pendatang yang akan menempelkan memori indah di kota itu dalam kenangnya. Maka, kami akan mengenang kota yang memiliki ciri khas dan karakter tersendiri, yang jauh berbeda dari kota lain. Semoga dipertimbangkan

Medan

Misi ke Medan kali ini agak berbeda dengan yang lain. Kali ini aku harus mendampingi dua pembicara sekaligus, salah satunya adalah Teuku Wisnu. Iyya..Teuku Wisnu artis itu lho..hehe..Dari Medan kami langsung ke Aceh bersama-sama dan satu pesawat. Apa yang kupikirkan sepanjang jalan bukan hanya tentang acara saja, tapi juga bagaimana nanti aku harus menghadapi tamu spesial itu. Aku takut salah tingkah atau terlihat gugup.

Sesampainya di Medan, aku takjub dengan bandara Kuala Namu yang sudah ciamik. Meski saat itu masih banyak kekosongan dimana-mana, secara keseluruhan bandara ini sudah melampaui kelas bandara-bandara lain di Indonesia. Tak ingin hilang kesempatan mencicipi kereta api pertama yang terintegrasi dengan bandara di Indonesia, aku memutuskan untuk naik railink. Melihat stasiunnya saja aku sudah senang, apalagi saat masuk. Ini kereta terbaik di Indonesia yang pernah aku naiki.


Di Medan aku juga menginap di hotel Syariah, tapi aku lupa namanya, itu pasti karena banyak sekali "PR" yang aku ingat dari hotel itu. Selain sampah pengunjung sebelumnya yang belum dibersihkan, sprei yang kurang bersih, air juga tak mengalir dengan lancar.

Sebelum ke Medan, aku pernah lihat di tv ada restoran tip-top yang terkenal dengan es krim khasnya yang dibuat dengan alat tradisional sejak zaman Belanda. Inilah rupanya es krim yang aku pesan nan masyhur itu. Terlihat enak kan?...hmm..tapi aku tak menghabiskannya. Lidahku kurang cocok saat itu.:(


Setelah acaraku selesai, kami langsung beranjak ke bandara Kuala Namu untuk menuju Aceh. Dalam perjalanan ke bandara, kami menyempatkan diri makan di restoran khas Medan di pinggir jalan. Bukan restoran mahal dan megah yang kami pilih, melainkan restoran biasa yang syaratnya harus menyajikan makanan khas Medan.


Di sinilah kami makan dan membuat heboh semua orang yang ada di tempat makan itu. Lihat kan berapa banyak piring yang disuguhkan ke kami?? itu semua berisi makanan yang pedas dan rasanya yang kukira mirip dengan masakan Padang, ternyata tidak sama sekali.

Medan, kota ini sangat unik. Setelah kurasa-rasa, suasana di Medan mirip dengan di Kuala Lumpur. Ada tiga etnis yang kuat di sana, Melayu, Tionghoa, dan India. Perbedaan itu selalu indah jika sesekali lupa bahwa kita memang berbeda.


Aceh

Dari Medan kami langsung menuju Aceh. sesampainya di Aceh, tamu-tamuku dijemput dengan mobil innova, sedangkan aku naik mobil ambulance kantor cabang Aceh. Ini pertama kalinya aku naik mobil ambulance. Hehe..

Alhamdulillah acaraku di Aceh berjalan dgn lancar, bahkan dihadiri ibu walikota Aceh yang dekat dengan keluarga Teuku Wisnu. Beliau adalah seorang yang rendah hati, begitu kesan pertamaku saat pertama bertemu beliau.



Setelah acara usai, kami langsung mengantar para pembicara ke bandara. Sebelumnya kami mampir ke rumah makan langganan keluarga Wisnu. Di sinilah pertama kalinya aku makan ayam tangkap. Masakan khas Aceh dengan rasa gurih, potongan daun pandan, dan uenak rasanya. Ayam tangkap menjadi masakan olahan ayam paling aku sukai dalam hidupku. Ayam yang dimasak dengan resep khas Aceh ini terasa naik derajadnya, benar-benar beda dari biasanya. yummmiiii....:p


Jika di Medan kita akan merasakan perbedaan kultur dan agama yang kuat, maka akan berbeda di Aceh. Kita akan melihat semua wanita berhijab dan tak ada laki-laki sliweran dengan celana lengan pendek. Suasana di Aceh benar-benar suatu yang berbeda. Kota ini sudah sunyi setelah jam 8 malam. Bisa ditebak setelahnya...semakin senyap dan senyap. Kebanyakan kota di daerah memang begitu sih.

Nah, di Aceh ini juga katanya bangunan bertingkat tingginya tidak boleh melebihi tinggi masjid Baiturrahman. Ingat kan dengan masjid ini? Masjid yang telah Allah kokohkan untuk selamatkan warga Aceh dari tsunami. Di Aceh ini juga, hotel bintang limanya juga hanya ada dua, si A dan si B. hehe..jadi gampang untuk memilih tempat buat tamu-tamu. Senangnya aku di Aceh berkesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata paling dicari di Banda Aceh: 1. kapal pltd apung yang "nangkring" di salah satu desa di Aceh saat tsunami, 2. Museum Aceh, 3. Pantai Lampuuk. Aku baru tahu, dibalik kemegahan Museum Tsunami Aceh ada tangan hebat Ridwan Kamil. Sempat aku pikir itu adalah karya arsitek luar negeri, sungguh picik pikiranku. :(






Pantai Lampuuk ini sangat indah men..jangan lupa main ke sini ya, tak jauh dari pusat kota di Banda Aceh. Pulangnya bisa mampir makan mie Aceh di sekitar pasar lama dekat masji Baiturrahman, sekalian ke masjid tentunya. Kali saja, kamu akan menemukan pengalaman unik saat polisi syariah Aceh sedang razia wanita berpakaian ketat. Awalnya aku pikir ada kebakaran atau kerusuhan, ternyata suara sirine dan anjuran lewat pengeras suara itu dari polisi Syariah. Tentu saja aku tidak ditangkap. Aku mah apa atuh..hehehe..

Aceh..oh Aceh, meski aku mendukung adanya perda syariah, namun melihat tahap penerapannya di Aceh aku sedikit bergumam, "rasanya ada yang terlewat..". Permainan "hide and seek" polisi syariah dan warga yang entah sampai kapan akan terus digalakkan, entah kenapa menurutku tidak akan membawa lebih banyak manfaat. Andai tak ada upaya pendorong agar orang-orang lebih semangat bersyariat, jika hanya upaya penegakan hukum saja, syariah akan selalu dijadikan kambing hitam yang justru membuat orang-orang tak mau menjalankannya. Apa yang aku amati baru sebatas itu, syariah belum diterapkan dalam bidang-bidang fundamental yang mampu menjadi pendobrak utama kehidupan masyarakat Aceh menjadi lebih baik. Oleh karena itu, mash banyak yang menyepelekan penerapan syariah itu.

Semoga itu hanyalah bagian dari proses yang akan berlanjut ke proses yang lebih tinggi untuk progress yang signifikan. Aceh tentu akan jadi sorotan terus menerus. Jika perda syariah itu mampu dijalankan dengan baik, semua akan melihat, banyak yang siap meniru.


Akhirnya..menutup semua perjalanan, aku menyimpulkan bahwa aku sangat beruntung dan tak boleh lepas bersyukur...Aku telah melihat lebih dan tahu lebih dari biasanya. Setidaknya seminimalnya, aku tahu bagaimana rasanya berada di luar zona nyaman dan menghadapai berbagai "gedebag-gedebug" di kota tersebut. (maaf harus pakai istilah bahasa planet..:))

Alhamdulillah..terima kasih Allah..





You May Also Like

1 comments