Beda Karakter Film Thailand,Korea, dan Jepang

by - Februari 24, 2015

Iseng-iseng di malam yang dingin ini, nulis pengalaman setelah nonton beberapa film dari tiga negara ini (Thailand, Korea, dan Jepang). Yah, cukup ga cukup film yang ditonton, setidaknya ada kesamaan dan kesimpulan yang bisa diambil:

1. Soal Setting Film

Masalah setting, masing-masing negara punya kekhasannya sendiri-sendiri. Menyimak film Thailand, kita akan merasakan suasana negara Thailand yang 'apa adanya'. Artinya, akan terasa atmosfer negara berkembang yang ditampilkan sesuai keseharian masyarakat. Seperti: jalanan yang "riweh" (meski ceritanya romance), kampung kumuh, design kamar yg biasa-biasa saja, persis seperti orang biasa pada umumnya. Berbeda saat kita nonton film Korea, masalah settingan itu adalah PR besar yang penggarapannya tak sekedar hanya untuk kepentingan pembuatan film. Terbukti, banyak settingan film Korea yang dijadikan aset pariwisata oleh pemerintah. Jadi kesannya Korea itu selalu punya tempat-tempat indah. Cara memainkan peran settingan ala Korea ini, meski sering tak masuk akal, tapi terbukti ampuh menaikan profit di sektor pariwisata. Nah, kalo Jepang itu terkait setting menurutku selalu totalitas, tanpa merasa dieksplor berlebihan. Semisal dia bicara tentang profesi tertentu ya dieksplor banget profesi itu dengan settingannya yang menurutku "niat banget" buatnya.

2. Soal Penampilan Para Pemain

Semua pasti tahu, di antara tiga negara itu, Korealah juaranya dalam memenangkah hati para fans di seluruh dunia. Itu karena para selebritis Korea "dirancang" sedemikian lupa untuk menjadi selebritis yang mewakili negerinya di mata dunia. Mereka semua seakan "diseragamkan" dengan style dan behave yang sama untuk memudahkan orang mengenal artis Korea. Nah, imbasnya ini adalah yang terjadi di drama/film Korea, drama sih kebanyakan. Pemirsa akan dimanjakan dengan pemain film/drama yang cuantik-cuantik, guanteng-guanteng, imut, putih, mulus, klimis, semua terkonsep dengan sangat apik. Wadrobe pun jadi hal yang tidak sembarangan dipilih, seperti melihat cat walk yang disuntikan ke alur film. Nah, untuk film Thailand, karena memang karakternya lebih "jujur" apa adanya, masalah penampilan pemain terlihat lebih standar, selain karena memang artis-artis sana juga aslinya ganteng-ganteng dan cantik-cantik, maka polesan berlebihan tak perlulah. Yang paling penting adalah, aku merasa tidak lebih cepat bosan melihat artis Thailand yang menurutku wajahnya lebih "beragam". Jepang sendiri punya kekhasan juga, mereka emang dari sananya terkenal berani gaya. Jadi, masalah penampilan aktornya menurutku film/drama Jepang juga mirip seperti Thailand, tambahannya mereka berani "anti mainstream". Meski begitu, dandanan rambut aktor di film/drama Jepang kadang menggangguku, kadang aneh.

3. Soal Gaya Bicara

Ngomongin bab ini, teringat kata temanku yang bilang "Ill feel deh lihat film Thailand, ganteng-ganteng ngomongnya"bleketuk-bleketuk"..". Masalah bahasa ini sepertinya banyak dirasakan oleh teman-temanku yang lain. Ah, sayang sekali aku bilang, hanya karena masalah rasa pendengaran, jadi gagal menikmati film-film bagus karya Thailand. Tapi, memang kadang itu cukup mengganggu sih. Menurutku sendiri, dengan aksen Thailand yang aneh jadi keuntungan tersendiri untuk film komedinya mereka. Jadi, tak perlu membuat gimmick-gimmick yang berlebihan, dengan bahasa mereka yang terdengar lucu saja kita sudah bisa tertawa. Nah, gaya bicara yang menurutku effortless di antara ketiga bahasa negara itu adalah bahasa Korea. Jika Jepang terdengar sangat ekspresif dan banyak penekanan suara atau kata, maka Korea terdengar manja dan lebih sering terdengar datar. Di antara ketiganya, aku memang lebih suka pada salah satu yang membuatku terngiang setelah mendengarnya. Bahasa Jepang..ya..bahasa Jepang itu menurutku menimbulkan bunyi yang membuat makna kata-katanya terasa dalam, apalagi dalam episode sedih atau serius dan dilakukan dengan lambat. Dalam kondisi gembira, bahasa Jepang akan terdengar sangat riang, meski kadang orang merasa itu terlalu dibuat-buat dan beberapa tidak suka.

4. Soal Alur Cerita

Alur adalah hal yang sering jadi konsentrasiku dalam menikmati cerita atau film. Memahami alur, membuatku teringat proses pembuatan skripsiku yang dalam kurun waktu satu tahun, hal yang paling sering aku oprek adalah masalah alur. Untuk alur, film dan drama memang berbeda, sudah pasti karena durasinya. Namun, meski begitu alur drama Jepang dan Korea saja sudah berbeda. Semua penikmat drama dua negara itu tahu bahwa drama Jepang biasanya lebih singkat dari drama Korea. Saat nonton drama Korea, biasanya kamu akan disuguhkan dengan alur bertumpuk yang tidak sederhana, penuh intrik dan menimbulkan tragedi meski baru di episode satu-dua. Kemudian  tragedi itu akan jadi penyebab mulanya konflik-konflik di episode selanjutnya. Bagiku, yang cukup menggangu adalah dramatisir alur yang diperah sedemikian rupa sampai buatku lelah lihatnya. Begitu cepat keadaan berbalik dan tak ada jeda untuk memahami arti kehidupan yang mendalam, karena terlalu rakus menyuguhkan sebab akibat. Lain halnya dengan drama Jepang, kadang terasa sangat lambat dan membosankan. Kadang kita pikir akan berakhir dgn sebuah peristiwa besar, nyatanya biasa-biasa aja. Kadang kesel juga sih. Kalo drama Thailand aku belum pernah lihat. Tapi yang jelas aku kurang suka adalah masuknya faham LGBT yang nyata di film-film Thailand.

Kira-kira itu dulu deh yaa..mesti banyak nonton lagi dulu..sekalian sambil belajar, karena aku adalah pembelajar visual..
bai bai...

You May Also Like

0 comments