Rasa Terhukum atau Dicintai?

by - Maret 31, 2015

Pagi ini ada rasa aneh yang menerpaku. Sesuatu yang membuatku berpikir tentang hal yang sangat dalam, sangat esensial. Aku baru saja melakukan tes kehamilan yang kali ini seperti biasanya aku selalu antusias dan sudah sangat sangat berharap. Ketika hasil yang keluar negatif, sudah pasti aku sangat terpukul. Lalu ada pertanyaan besar yang berlalu lalang di kepalaku "Apakah manusia adalah makhluk yang memang sudah dirancang untuk menerima takdir?". Jika benar, maka semestinya manusia punya bakat untuk ikhlas, sabar, dan taat. Apakah aku sudah mengasah bakat itu? Aku rasa jika ibarat kompetensi Indonesian Idol, aku berada di posisi mau diterima kurang, mau ditolak ada potensi. 

Aku belum sepenuhnya mampu memanifestasikan keyakinanku dalam bersikap. Aku yakin Allah maha Baik, setiap kejadian tak luput dari maksud, tak pernah alpa dari hikmah, dan tak pernah lepas dari pandangNya. Hanya kadang aku takut, karena perasaan yang justru sering muncul adalah rasa dihukum atas dosa-dosa. Namun, di balik itu perjuangan melawan dosa pun juga makin terasa berat. maka lengkaplah sudah beratnya mencoba mempositifkan keyakinan. Memilih antara yakin dicintai Nya atau sedang dihukum oleh Nya sering membiaskan hati. Secara logis, jika ini hukuman, maka pastilah akan ada masa akhirnya. Jika ini Cinta pastilah ia tak bertepi, meski pahit terlihatnya. Aku tinggal memilih, apakah aku akan hidup dihantui rasa terhukum atau rasa dicintai dengan caraNya yang belum kumengerti?? Ini tak mudah memang.. 

Berpikir ala terhukum oleh kesalahan macam ini sudah mulai terlatih dari aku kecil. Saat itu, saat aku masih SD, dengan segala kelimpahan yang sempat kami cicipi, aku dan keluargaku sering menghamburkan uang khususnya di akhir pekan. Hingga tiba di masa krisis moneter tahun 90an kami masih tetap bisa menikmati kelimpahan itu. Sempat terbesit olehku, akankah kelimpahan ini terus kami nikmati? Pertanyaan ini muncul seiring dengan sebuah protes kecil dari hati "Tak selayaknya kami bersenang-senang seperti ini, sedangkan masih banyak orang lain yang kekurangan". Bahkan aku juga punya feeling bahwa semua kelimpahan ini akan segera berakhir. Sungguh jika kuingat, di usiaku di bawah 10 tahun aku sudah memikirkan hal semacam ini, betapa rumitnya pemikiranku. Jadi, aku sudah merasa "terhukum" sejak aku masih belum tahu apa yang akan kuhadapi ke depan. 

Itulah kenapa, aku tak mengalami shock yang berlebihan saat akhirnya apa yang kutakutkan itu terjadi. Hanya kesedihan kecil yang menemaniku. 

Kini, rasa terhukum itu telah melatihku untuk segera muhasabah sesaat setelah musibah menghampiri. Jika aku kehilangan uang atau mengalami kejadian yang kurang menyenangkan, aku langsung berpikir dan mengingat-ingat "Dosa apa yang sudah aku lakukan ya Allah?". Meskipun begitu, aku masih belum bisa terbebas dari kuatnya dorongan berbuat dosa, entah dalam hati atau perbuatan.  Oleh karenanya, aku bersyukur rasa itu tak mati dalam hatiku.

Ya Rabb, aku hanya berharap, Kau tunda aku dari memiliki keturunan setelah 4 tahun pernikahanku semata-mata hanya karena Engkau mencintaiku..






You May Also Like

0 comments