Peperangan yang Tak Boleh Usai

by - Mei 19, 2015



Perperangan nafsu..pernahkah kamu merasakannya? Aku sering merasakannya, kadang sangat nyata, kadang terasa samar-sama. Ketika aku menyadari peperangan itu sedang terjadi, suara-suara akan muncul. Suara yang satu sering berkata ,” Jangan Tika..ingat ......”. Suara lainnya, “ Udah nggak apa-apa, kan Cuma....kan nanti...”. Terasa sekali kekubuan dua suara itu. 

Setelah aku ingat-ingat dalam peperangan itu, aku sering memenangkan suara yang selalu menyajikan seribu satu alasan. Seperti jika aku ragu untuk berpuasa, maka suara itu akan berkata “ Badanmu lagi nggak enak kan, udah nggak usah puasa aja.” atau “ Hari ini kan ada acara makan-makan, besok aja puasanya lagi.” Suara yang ini lebih mudah kucerna dan kuterima daripada suara satunya, “ Ayo puasa, kamu kan kuat. “ atau “ Apa yang kamu khawatirkan, ayo luruskan niat”. Tapi untuk menuruti suara yang ini, aku harus menyemangati diriku sendiri, seperti mengumpulkan bala bantuan sebanyak-banyaknya. Usahanya lebih daripada mengikuti suara yang satu.


sumber foto:www.samuelgonzalez703.blogspot.com

Peperangan ini terjadi berulang setiap hari. Bagiku ini sungguh “berisik”. Tapi, sekaligus aku bersyukur. Rasanya aku masih punya pelindung dan pengingat. Aku selalu menyesal jika aku memenangkan suara yang menyeruku jadi manusia budak nafsu (buruk). Rasanya seperti membiarkan sahabatku terluka dan mengkhianatinya. Namun, kadang aku belum cukup kekuatan untuk menghalau suara-suara itu. Mereka begitu kuat dan selalu punya alasan untuk diikuti.

Sungguh alangkah bahayanya jika aku kehilangan peperangan ini. Jika tak ada peperangan ini, sesungguhnya aku sudah kalah telak. Tak ada lagi yang aku perjuangan atau membuatku pantas berhadapan dengan Tuhan. Karena peperangan ini sesungguhnya adalah jalan untuk menempuh jalan Nya.  

Mungkin ada sebagian manusia yang dengan sengaja membunuh suara-suara itu untuk menghentikan peperangan. Sejak itu pula ia sudah memilih untuk menghidupkan salah satu kubu. Tentu pilihan itu lebih mudah ditempuh daripada harus berjuang sendiri tiap harinya. Apalagi suara yang diikuti selalu membuat banyak alasan dan pembenaran, sehingga rasa bersalah akan mengalah dengan sendirinya. Suara yang seharusnya terbagi menjadi dua, suara kebenaran dan suara kebatilan, akhirnya melebur menjadi satu. Maka, kita akan menjumpai manusia-manusia yang bingung membedakan mana yang haq dan bathil, atau juga mereka yang dengan sengaja mengaburkan yang haq menjadi bathil. 

Jadi..peperangan tidak boleh dihentikan. Peperangan yang ini tak kenal gencatan senjata, sampai suara kebatilan terdengar semakin samar dan sulit dikenali lagi.

You May Also Like

0 comments