Lima Tahun, Babak Pertamaku

by - September 25, 2015



Penanya  : “Mbak udah berapa tahun menikah?”
Saya           : “ Hmm..ayo tebak berapa tahun?”
Penanya   : “ Berapa ya..baru ya..setahun?”
Saya           : (menunjukkan lima jari)
Penanya   : “ Oh...lima bulan..”
Saya           : “ Bukan..” (sambil geleng-geleng)
Penanya   : “ Waah..baru lima hari mbak..”
Saya          : (Akhirnya menyerah) “ Bukaaan...sudah lima tahun ko.”
Penanya  : “ Haa..Serius?”

Tanya jawab seperti itu sudah sangat sering aku alami. Awal-awal ditanya sudah berapa lama menikah, aku biasanya langsung jawab saja. Tapi, akhir-akhir ini rasanya seru membuat orang penasaran dan setelah dikasih tahu seakan nggak percaya. Hehehe..

Yah..lima tahun, genap hari ini lima tahun sudah aku menikah.  Sebuah angka tahun yang cantik dan sekaligus memunculkan beragam tanggapan. Ada yang bilang jika sudah bisa melewati lima tahun pernikahan, maka untuk berjalan ke depan akan terasa jauh lebih mudah. Lima tahun dianggap masa ospek bagi pernikahan, masa percobaan yang mengadu kekuatan pasangan suami isrtri.

Aku tak bisa membenarkan anggapan bahwa lima tahun adalah periode pertama “ujian” terberat dalam pernikahan. Maka jika alasan anggapan itu muncul adalah karena masa-masa itu adalah masa-masa adaptasi yang bergejolak luar biasa. Apakah setelah merasa cukup saling mengenal, ujian kemudian berhenti atau tersendat jalannya? Maka semua tahu, jawabnya tentu tidak. Ujian justru akan semakin meningkat. Itulah kenapa, mereka yang bertahan dan bertumbuh juga adalah yang berusaha meningkatkan kualitas dirinya.

Ada yang menikah, adem ayem bertahun-tahun tanpa tersentuh ujian berarti, hingga ketika tersandung satu ujian yang cukup memukul, porak porandalah pernikahan itu. Banyak yang tak siap menghadapi masalah, banyak yang tak mau dan menghindar. Seperti hari ini, tepat di hari lima tahun aku menikah, seorang gadis menceritakan ketakutannya untuk serius menikah. Ia khawatir jika tidak menikah dengan pria yang tepat ia akan terluka dan menderita. Lalu ia  membuat kriteria pria yang ingin ia nikahi dalam frame kondisi pernikahan yang selalu bahagia. Bagaimana bisa??

Pernikahan itu memang membahagiakan, tapi ia tak selalu memuaskan kriteria kebahagiaan kita. Maka karena si gadis ini pernah ditinggal pacarnya dan berharap punya suami yang tidak pernah akan meninggalkannya, solusi apa yang terbaik untuknya??  Membuat calon suaminya berjanji untuk tidak akan pernah melukai dan meninggalkannya? Sayangnya dia tidak menikahi malaikat yang selalu tepati janji.

Dan jawabanku mungkin memang tidak membuatnya tentram. Tidak ada yang bisa menjamin kebahagiaan pernikahan, bahkan jika kamu yakin bahwa pasangan yang kamu nikahi itu sempurna di matamu. Tak ada jalan lain, maka jadilah pribadi yang SIAP.  Semua adalah tentang sikap, respon dan bagaimana mengolah rasa.

Saat ini aku semakin yakin, bahwa cinta bukanlah jaminan kelanggengan pernikahan. Setidaknya bukan cinta yang dirawat sendiri, dipupuk dan dibiarkan membesar dan mengecil. Cinta yang bisa melanggengkan adalah cinta yang sudah bisa dititipkan ke Allah SWT. Jika kumuarakan cintaku untuk suamiku semata, maka cinta itu akan jadi sebentuk rasa yang mengikuti nafsu. Jadilah jika aku sedang mengharapkan balasan akan cinta dan suamiku tak memberikannya, kecewalah aku pada akhirnya. Cinta yang kutitipkan ini, membuatku tetap mencintai meski kadang terselip benci, membuatku terus bertahan meski kadang ingin melawan, membuatku tetap teduh meski dilanda api. Inilah cinta yang selalu membawa peta, tahu kemana membawaku melangkah.

Lima tahun...Dalam jangka waktu itu, ada sebagian manusia yang berhasil mencapai puncak kejayaan, ada yang hidupnya tak pernah berubah, ada yang menjalaninya dengan sangat bersemangat, ada yang lesu. Lain lagi bagiku. Lima tahun pernikahanku ini adalah lima tahun bersekolah yang fokus pada satu pelajaran utama, sabar. Oleh karenanya akan kunamai lima tahun pertama pernikahan ini menjadi periode mengakar sabar. Inilah masa dimana kesabaran menjadi tokoh utama yang sedang memainkan perannya.

Lima tahun ini...

Terima kasih telah menjadi pemeran dalam hidupku dan memainkan peran yang tak mudah. Kamu pun harus terbiasa menghadapi perempuan dengan seribu pemikiran sepertiku. Perempuan yang sudah terlatih memilih jalan sendiri sepertiku, tentu menyulitkanmu untuk membuat arahan.

Lima tahun ini..

Aku hanya berharap kita lulus ujian, hingga Allah sudah siapkan ujian selanjutnya dan kita akan kembali melewatinya dengan segala cara.

Lima tahun ini...

Semoga cukup untuk membuktikan pada Allah, bahwa kita sudah mampu menjadi orang tua, hingga ia amanahkan keturunan pada keluarga ini

Lima tahun ini...

Entah hingga kapan waktunya...Aku takkan lelah untuk bertumbuh, maka kuharap kau pun begitu, hingga kita akan sejalan seirama saling menghebatkan masing-masing diri kita

Aku istrimu, dengan cinta dan harapan.




You May Also Like

0 comments