by - Mei 03, 2016



Setiap Manusia Melahirkan “Anak”

 

Aku percaya ada yang tumbuh dalam diriku. Sesuatu yang memaksa untuk diberi “makan” dan membesar. Sesuatu yang bisa bahagia, marah, sakit dan merasakan berbagai reaksi lainnya. Sesuatu yang bisa diajak berbicara dan ingin mendapatkan perhatian

Persis seperti hadirnya seorang anak dalam hidup. Ia pun jika dibesarkan dengan cara-cara yang baik akan tumbuh menjadi anak yang baik. Ia pun juga mengenal berbakti jika dibiarkan berada dalam pendidikan yang bagus.

Aku tak sadar sedari awal tentang “anak” ini. Aku baru tahu setelah berbagai ujian pernah aku alami. Berbagai macam respon dan permainan karakter pernah aku dalami. Aku pernah mendendam, aku pernah tertekan, aku pernah melawan, aku pernah tak punya takut, aku pernah membenci, aku pernah berdiam diri.
Perjalanan hidupku, memungkinkanku untuk mengambil banyak peran dalam hidupku dan hidup orang lain. Ini pula menjadi jalan bagiku untuk mengeksplorasi bagaimana aku bereaksi atas apa yang terjadi. Itulah kenapa hidupku tak pernah terasa sama dalam waktu yang lama. 

taken from http://iconshow.me/heart-icon-8
Jika dibagi menjadi fase-fase, maka secara jelas fase pertumbuhan hati dalam diriku adalah fase yang paling jelas. Bukan fase yang secara otomatis terjadi karena perubahan zaman. Aku pernah berada di fase di mana aku menumbuhkan keberanian dalam diriku, fase-fase perlawanan terbesar ada di sini. Kemudian, aku pernah berada di fase di mana aku harus menimbun kesabaran sebanyak-banyaknya, seperti orang yang rakus. Aku juga pernah berada di fase berdiam diri, membiarkanku tenggelam dalam kehampaan.

Karena pola hidupku seperti ini, aku tak pernah merasa cukup dewasa atas semua yang terjadi. aku takkan melabeli diriku sendiri dewasa hanya karena aku berproses secara alamiah atas perubahan waktu. Bukan karena usia tentunya. Setiap fase adalah tantangan. Aku pun jadi pembelajar tanpa henti.

Aku selalu penasaran, fase apa lagi yang akan kulalui setelah berhasil melewati suatu fase. Dalam suatu fase pun aku juga masih sering penasaran. Apa yang sebenarnya Allah inginkan dariku? Kadang aku hampir menyerah. Sering bahkan. Aku ingin terhindar dari alur fase yang seperti roller coaster. Tapi, Allah selalu punya cara terindah untuk menumbuhkanku. Menumbuhkan “anak” dalam diriku. Si hati yang menyerap semua energi dalam diri.

Hatiku..adalah anak yang kutumbuhkan dari kecil hingga jadi seperti sekarang. Meski ada Allah sang Maha membolak-balik hati, bukan berarti anak ini tak perlu diajari. Justru ia harus terus dibina, agar ketika Allah membalikkan hati, ia tahu bahwa ia dalam kondisi diuji. Ia takkan berpaling hingga keluar dari jalur hanya karena berada dalam kebimbangan.

Seperti anak yang mulai mengenal mana yang baik dan mana yang buruk, hati juga akan akrab dengan pemilah milahan berdasarkan kebenaran yang ia yakini. Di saat-saat terberat, mempercayai hati yang sudah terlatih adalah penolong yang sangat kuat. Kecuali, hatimu masih saja seorang bocah yang tak kunjung mau tumbuh dewasa.






You May Also Like

0 comments