Surat untuk Tahun ke 27

by - Agustus 11, 2016



27 adalah angka usia yang sedikit membuatku gusar. Jalannya semakin mendekati 30. Masa-masa usia dua puluhan pun bersiap untuk berkemas pergi. Bahkan mungkin sudah ada yang beranjak pergi, karena rindu akan masa itu begitu menggebu terasa.



Berbeda saat aku akan beranjak menapaki usia dua puluhan. Saat itu rasanya tak sabar lagi meninggalkan masa remaja dan memasuki cara pandang baru. Memang aku sering merasa punya cara berpikir yang lebih “tua” dari teman-temanku saat itu. 



Di usia ini, aku merasa semakin tertekan untuk meninggalkan masa kepala dua dengan prestasi yang minimal memuaskan diriku sendiri. Nyatanya, aku masih mencari jalan untuk menuju kata prestasi. Awalnya, aku berpikir untuk mejadi orang baik saja, tak perlu aku pusing memikirkan prestasi dan pencapaian. Ternyata, pun membatasi diri dan berusaha menjadi orang baik “saja” tidaklah mudah.



Namun aku bersyukur, bahagia tak perlu jauh-jauh untuk mendatangiku. Tak sulit memungut bahagia dari hal yang paling sederhana. Aku hampir menuju 30 dan tetap bahagia. Tak ada kekhawairan yang terlalu besar mengancamku. Itu karena aku terbiasa memecah kekhawatiran menjadi debu-debu yang mengitariku dengan lembutnya. Aku tak khawatir akan hal besar, namun aku selalu dikelilingi kekhawatiran-kekhawatiran kecil. 



Tahun ini, salah satu doaku perlahan dikabulkan oleh Allah. Ini adalah salah satu doa yang ketika kupanjatkan ada desir-desir pasrah dan kadang dibumbui keraguan. Ini adalah permintaan khusus pada Allah, karena aku pun tak bisa membayangkan bagaimana manusa bisa mewujudkannya. Adalah hidayah, sebuah karunia yang mutlak hak Allah yang kurayu untuk hadir. Untukku dan dia. Agar kami tahu kemana melangkah dan apa yang semestinya kami lakukan.



Di lain sisi, aku masih anak kecil yang terjebak di tubuh berusia 27 tahun ini. Katakanlah, seperti seekor anak kucing yang lincah bergerak ke sana kemari, mengejar kupu-kupu dan cahaya yang bergerak, entah untuk apa, tapi dia tahu itu membuatnya bahagia. Aku masih dan tetap menemukan “kupu-kupu” dan “cahaya bergerak” itu dalam hidupku.






Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Tahun ini akan menjadi lembaran cerita baru, babak yang berbeda. Jangan pernah tinggalkan hamba Mu ini ya Rabb..

You May Also Like

0 comments