Mengkhianati Januari

by - Februari 03, 2017



Aku telah mengkhianati Januari. Dalam bisikku pada Desember, aku telah setengah berjanji, aku akan lebih baik di Januari. Aku akan menulis lebih banyak. Aku takkan mengulangi kesalahan yang sama. Aku....aku...akan begini begitu.

 

Januari adalah magnet untuk bermimpi. Di bulan ini siapa saja bisa ditanya apa impian dan harapannya. Jika aku anak kecil, aku akan berharap dapat melewati tes di sekolah dengan baik dan segera naik kelas dan segera menuju tingkat lebih tinggi. 

Namun, aku merasa Januariku kali ini hanyalah hitungan bulan yang sama dengan bulan-bulan lain. Di malam itu, di hari perpindahan tahun 2017 ini, aku bahkan tak bisa mendengar suara bising yang orang-orang ciptakan. Aku lelap dalam tidurku yang membius. Entah karena lelah atau karena angin membekapku begitu erat.

Aku jadi tak peduli, jika Januari adalah hari pertama di tahun ini. Bukan karena masalah tahun masehi dan hijriah. Hanya karena, di awal tahun ini aku masih berada di latar yang sama dari panggung ini. Menyadari berada di awal tahun dan masih berada di atmosfer yang sama membuatku tak buru-buru memaknai Januari.

“Santai saja dulu...peranmu belum beralih”


Awal Januari berlalu, ini adalah masa-masa menguatkan keyakinan akan keputusan yang diambil. Masa menjadi lebih berani dan menempatkan pendapat (bisikan) orang lain, ke ruang belakang, membungkus dan merapikannya.

Di sini ada perulangan pola ujian yang sama. Ada ujian baru, ada kekecewaan dan percik-percik kebahagiaan yang baru. Meski tak nampak jelas perubahan berarti dari tahun lalu. Namun, nyata terasa 2016 sudah memberi pelajaran diam-diam dan menanamkannya dalam-dalam di diriku. 

“Peranmu belum beralih...tapi ruang kendalimu semakin membesar”


Menjelang akhir januari, barulah aku berani memaknai Januari. Ada kesetiakawanan sang waktu yang sudah menemaniku selama ini. Inilah masa aku mulai mempercayai analisa yang kubuat dulu dengan sedikit ragu, “ini hanya masalah waktu...”, “ini adalah tipe masalah yang akan selesai seiring berjalannya waktu, makanya aku hanya perlu menyiapkan hati yang lebih lapang”
 

“Kamu mulai terbebas, karena kamu semakin jujur pada hatimu sendiri...”


Aku semakin menghargai hatiku sendiri. Aku berdiri dan memberi tepuk tangan hangat atas keberaniannya mengambil langkah. Rasanya kini aku takkan ragu untuk menasehati orang agar bersabar atas ujian yang ia terima. Sabar itu penolong tapi bukan pahlawan yang bisa datang kapan saja dibutuhkan. 

Jadilah Januari adalah bulan “pemanasan”, bukan bulan memulai dengan energi baru seperti bayanganku dulu. Kepada Februari, akan kunamakan kau bulan langkah-langkah kecil. Ada banyak langkah-langkah kecil yang harus segera dilakukan di Februari. Seperti setianya waktu memintal sabar-sabar (besar-kecilku), aku ingin juga ia memintal langkah-langkah kecilku dan kelak menjadikannya hadiah terindah untukku. 

taken from :http://wallpapercave.com/rain-drops-wallpaper

Terima Kasih Januari telah memberi pelajaran berarti, selamat datang Februari

You May Also Like

0 comments