Selamat Datang Air Mata di Labuan Bajo

by - Februari 18, 2018



#RonaMariana #GoresandariNTT #part1

Sebelum mengudara ke Labuan Bajo, gambaran  perjalanan kami selama di NTT sudah beberapa kali diceritakan. Intinya, sesampainya di bandara kami akan menempuh jalan darat 8 jam. Jalannya seperti apa? Kata orang di sana seru. Kata tim yang pernah ke sana, siap-siap antimo. Oke fix, jadilah aku beli antimo juga.

Eits, tapi ini aku akan bercerita tentang awal mula sekali perjalanan ini di dalam pesawat. Memang perjalanan ini cukup panjang, kurang lebih 2,5 jam penerbangan. Jadilah aku memilih untuk nonton film.  Pilihan jatuh ke film yang covernya seorang laki-laki dewasa menggandeng seorang anak kecil yang membawa boneka beruang, “Goodbye Christopher Robin”




Film ini berlatar tahun 1924, di awalnya tertulis “based on true story”, tapi kita nggak tahu itu cerita tentang siapa. Awalnya sedikit membosankan. Tapi kami juga belum tersiram kantuk. Hingga akhirnya part film ini tiba di saat-saat yang menarik. Di saat sang ayah, tuan Milne yang biasanya berjarak dengan sang anak “dipaksa” berperan menjadi ayah yang baik karena istrinya pergi bersamaan dengan pengasuh anaknya dalam waktu yang cukup lama.

Sang ayah yang juga penulis ini pun mengajak anaknya bermain di hutan. Berdua mereka memainkan imajinasi ditemani boneka beruang, harimau, kangguru, dkk.  Di sini, kita akan disuguhkan pekatnya emosi bahagia yang dirasakan seorang anak laki-laki saat menghabiskan hari bermain dengan ayahnya. Di sisi lain, bagi sang ayah, kebersamaan itu memercikkan inspirasi yang sangat “mahal” bagi seorang penulis.

Tuan Milne menemukan dunia yang damai dari kebersamaannya bersama sang anak. Inilah jalan keluar dari kekacauan di pikirannya yang disesaki bayang-bayang perang dunia II, penderitaan dan kelaparan pada masa itu. Inilah cerita yang harus diangkat dan dibaca seluruh anak di dunia. Sebuah cerita imajinatif yang “dihidupkan” dari kehidupan anaknya sendiri.

  
Setelah mendalami berbagai karakter bersama anaknya, dicetuskanlah karakter “Winnie The Pooh”. Ya, inilah kisah awal mulanya muncul karakter beruang lucu yang tinggal di hutan yang tenang bersama kawanan hewan lainnya.  

Ketenaran seketika menyergap Milne dan anaknya. Orang-orang ingin tahu siapa Christopher Robin dalam cerita karangan ayahnya. Jadilah bocah kecil ini seleb yang mendadak, kesana kemari menemui  media, anak-anak bangsawan, dan lainnya. Tapi, bukanlah itu yang ada di benaknya selama ini. Ia tak paham sama sekali bahwa kebersamaan indahnya bersama sang ayah akan menjadi cerita untuk semua orang. Ia marah dan tidak terima. Baginya satu-satunya hal yang dia butuhkan adalah waktu bersama sang ayah.

Mengutip dari Wikipedia, di salah satu buku autobiografi, Christopher Robin Milne mengatakan:
It seemed to me almost that my father had got where he was by climbing on my infant shoulders, that he had filched from me my good name and left me nothing but empty fame

Ketenaran kosong. Ya, itulah yang dirasakan Christopher Robin, hingga ia pun tumbuh dengan kekecewaan terhadap ayahnya yang seakan mengeksploitasi sosoknya. Dan ya, bisa ditebak, sang ayah terlambat menyadari hal itu.  Saat Christopher Robin mendaftar untuk jadi tentara, tuan Milne dan istrinya sangat terpukul, padahal dia tak harus melakukannya. Sang anak hanya ingin lepas dari bayang-bayang nama Christopher Robin yang bermain bersama Winnie, Piglet, Tiger, Kangoro, dll. 

Di titik inilah… Air mata itu menetes. Begitu terasanya, kekecewaan yang memuncak di hati bocah cilik pujaan dunia yang sudah dewasa itu. Bisa jadi di benaknya, ia tak pernah menilai ketulusan sang ayah saat bermain dengannya. Lalu dia jatuh dalam pemikiran bahwa dia tak dicintai.

Dan…ternyata bukan hanya aku yang nangis. Mas-mas sebelah yang katanya mirip Joe Taslim (KW level entahlah) itu juga nangis.  Sembari dijeda pengumuman dari pilot bahwa pesawat akan mendarat, kami rampungkan sesi berair mata ini. Dan tepat sampai di atas Labuan Bajo, film ini berakhir. Pada akhirnya, Christopher Robin mengucapkan maaf kepada ayahnya. Di saat ia di medan perang dan diselimuti ketakutan, salah satu temannya mengumandangkan lirik lagu atau petikan syair dari buku karangan ayahnya. Di sanalah dia baru tersadar, bahwa kisah yang ditulis ayahnya telah membawa dampak yang besar untuk dunia.

Setelah sama-sama nangis, kita malah ketawa. Lucu aja gitu nangis bareng gegara nonton film di pesawat. Menatap ke jendela, kuingat kembali sosok lelaki itu, bapak. Banyak hal yang pernah terjadi di antara kita, mungkin kita memang belum berada di tahap saling menyadari apa yang pernah membuat kita berjarak. Tapi, kita tahu kita saling menyayangi. Bagiku, cukuplah di situ saja. Karena apa lagi yang kukejar? Cukuplah kasih sayang dan doamu, bapak.

You May Also Like

0 comments