Menjala Kenangan di Kota Malang

by - Maret 10, 2018

Cerita perjalanan ke Bromo berlanjut, dengan segala sisa-sisa tenaga yang ada, melawan kantuk dan lelah setelah “terkutuk” 30 jam di kereta.

Sebelum berangkat, mas Taufik ngebrief  kami cukup serius seperti sepotong adegan di  jejak petualang, “ Nanti di sana kalau mau naik kuda harus bilang saya, kalau nggak kuat nanjak nggak boleh malu bilang, pokoknya harus terus bersama-sama”.

Dengan dua mobil jeep terbuka, jam 2 pagi kami berangkat. Aku duduk di depan sama mbak Etika. Nggak beberapa lama mobil yang goyangannya melebihi goyangan Inul Daratista itu berjalan, aku malah ngantuk di level 100%. Akhirnya, bahu mbak Etika yang tipis jadi labuhan kepalaku yang berat. Samar-samar aku dengar dia bilang, “gelap banget ya Tik, serem, aaaa,…” , sambil tangannya tak lepas dari pegangan di mobil. Tapi, aku udah  nggak bisa merespon lagi. Hihi maaf ya mbak

Dan ternyata di belakang, Bu Niken juga  ketakutan sampai nggak mau membuka mata. Gelap, sebelah jurang, terjal, dan ketika sampai di jalan berpasir, debu menyelimut.



Sesampainya di tempat parkir mobil, bapak-bapak penyedia jasa naik kuda merayu-rayu dengan narasi dramatisnya, “Jauh lho Bu ke atasnya, nanti capek lho, pake kuda aja”. Beberapa kali aku dan mbak Sulis hampir menampakkan rona menyerah yang mudah terendus bapak-bapak itu. Tapi, dengan dukungan semua dan ramuan minuman jahe ala Teh Yoyoh, kami berlanjut. Yeii!!

Akhirnya , sedikit demi sedikit kami sampai juga di penanjakan dua. Orang-orang sudah bergumul, memegang telephone genggam mereka, menyambut matahari terbit bak artis kenamaan. Tapi kami justru bergegas mencari tempat untuk sholat subuh. 
 
Beralas jas hujan yang digelar di atas bebatuan yang cukup tajam, kami sholat berjamaah, mengabaikan euphoria orang-orang. Tapi ternyata, beberapa orang justru teralihkan perhatiannya melihat kami sholat, “Difoto cah, iki divideo, cepet…”, kami pun jadi tontonan. Meski dalam hati aku berharap ini jadi “tuntunan” buat mereka. Aku yakin banyak yang mengabaikan sholat subuh kala itu. Demi apa? Demi secercah pemandangan yang bila Allah pun tak beri kemurahan, takkan bisa mereka nikmati.
Melupakan miris yang mengiris hati, kami langsung melebur bersama gelombang manusia lainnya. Berswafoto, berfoto bersama teman dengan pose-pose terbaik. Sebenarnya ada sedikit sesal di sini. Aku merasa tak menghargai Bromo karena justru sibuk mengambil foto. Ah, seandainya ada kesempatan lagi, aku ingin berada di sana, tanpa memikirkan foto atau lainnya. Aku hanya ingin duduk, menyemai rasa dan menangkap sebanyak-banyaknya aroma yang merekat, hingga saat kutinggalkan ia, aku bisa memanggilnya kembali dalam ingatan yang pekat. Semoga kelak, bersama yang dirindu..

Selanjutnya, kami mendekati gunung yang nampak gagah dari penanjakan dua itu. Di depan Bromo, rasa bahagia masih tertangkap jelas di kamera.  Beginilah kekompakkan kami yang bikin perjalanan ini nggak terlupakan. Apalagi untuk bu Maya yang berangkat dengan rasa gusar karena baru saja berpisah dari teman-temannya , ternyata baginya, teman-teman yang sekarang nggak kalah asyik.Wah, selamat bu Maya..

Bromo,pasir berbisik, bukit teletubis diiringi lapar, kantuk, capek, kami ingin bergegas pulang setelah ratusan foto memenuhi memori hampir semua gadget.

Jam 12 siang kami sampai di homestay, awalnya kita mau lanjut ke Coban atau River Tubing, tapi setelah semua badan duduk-duduk di teras homestay sambil menikmati cemilan, ternyata capek mengalahkan niatan melanjutkan perjalanan. Keputusan dibuat, akhirnya kami sudahi perjalanan dan melanjutkan dengan istirahat sampai jam 4 sore. Belum lagi PR  membuat surat kuasa untuk syarat refund tiket kereta. Bayangkan aja, kalo nggak direfund, sore itu juga kami harus kembali ke Jakarta naik kereta lagi. Akkk…Tidaaakk!!

Tujuan selanjutnya adalah rumah mbak Sulis yang nggak jauh dari stasiun Malang Lama. Tak lama setelah adzan maghrib, kami sampai dan sudah disambut si hitam yang menggoda. Apa hayo? Si hitam yang jadi semangat kami di sore itu, yang begitu membekas di lidah mas Arif dan kita semua. Dan ialah  Rawon buatan ibu mbak Sulis yang sampai sekarang masih jadi trending topic grup #KuyTrip. Hehehe.. 

Mungkin rawon itu pulalah rahasia kekuatan kami untuk melanjutkan perjalanan ke BNS (Batu Night Spectacular) malam itu. Sebuah skenario yang ciamik memang. Hehehe

Di BNS, kami berpencar dan untuk menciptakan kenangan terindah, kita sepakat naik kora-kora bareng-bareng. Eh, hampir semua dah naik, ternyata mbak Dian sama mbak Etika dadah dadah. Di wahana kora-kora inilah nyali kami diuji sebenarnya.

“ Ya Allah ampun ya Allah..Aduh nggak kuat..Udaah..Udaaah..Udaah”, udah kenceng suaranya, duduk di belakangku pula, bikin tambah panik. Ya itu tu, yang makan Rawon paling banyak, siapa lagi kalo nggak si pemijat dari barat yang katanya senang bisa memijat 4 sahabatnya. Hehehe…

“ Tambahiiiiin…”, mbak Yoyoh menyahut dari depan, semacam meledek kami di belakang yang histeris

“ AAAAAAAAAAAAAAAAA…..”, teriakan mbak Lia yang nggak kusangka bisa menyaingi oktafnya Mariah Carey. Hahaha

Dan, ada yang ngumpet di “keteknya” bu Maya, si bongsor yang ternyata penakut juga. That’s me. Aku nggak pernah berhasil buka mata kalau lagi naik kora-kora.

Two thumbs up lah buat mbak Yoyoh, bu Maya, mbak Endang dan mas Salman yang masih bisa jaga wibawa dan tetep kalem. Hehehe

Dan..dari luar wahana, mbak Dian dan mbak Etika Cuma bisa menyaksikan kami seperti ibu-ibu di TK yang lihat anak-anaknya main di taman bermain. Hehehe

BNS ditutup dengan kora-kora. Di tengah malam, kami masih membayangkan bakso Malang atau makanan khas Malang lainnya. Jadilah kami ke alun-alun Batu dan merapat ke ketan susu Legenda yang memang melegenda. Mengikuti rekomendasi mas Shofa, akhirnya aku memilih ketan susu duren keju.  Semacam penutup malam yang indah…

Sampai di rumah mbak Sulis, kami sudah seperti setengah zombie. Bahkan beberapa sudah langsung pulas setelah menempel di kasur. Karena jumlah kami yang banyak, 14 orang, akhirnya kami tidur di tiga ruang terpisah. Tiga bapak-bapak berperut buncit tidur di atas, membuat grup paduan suara di malam hari. Hhehehe. Kami tidur di ruang tamu dan ruang santai keluarga mbak Sulis. Berdempetan, Satu kasur bisa  4-5 orang. But, who cares? Lelahnya sudah lengket kaya perangko, semua pun lelap.  Begitu pun aku.

Dan..Esok harinya, kami bangun dengan cerita yang penuh dengan rasa. Bersiap meninggalkan Malang dan segala kenangan.  Pagi-pagi sarapan pecel Malang, ternyata Rawon ajaibnya masih ada. Sejurus aku ambil rawon yang makin sedap rasanya. Dengan tega aku bilang ke mas Arif. Dia pun kesal karena nggak dikasih tahu kalau rawon pagi itu masih ada.Hahaha

Drama belum selesai, di bandara, kami semua bak manusia tak beridentitas. KTP kami ada di mas Jenar yang kala itu mengurus proses refund tiket kami dan lalu memisahkan diri dari rombongan.  Tapi semua teratasi dengan caranya “cosmos” (mulai nggak jelas).

FINALLY, sampai Jakarta juga kitaaaa…..

Esoknya, hingga dua pekan setelah perjalanan ini kita mulai, kenangan Bromo #KuyTrip masih selalu hangat, sehangat rawon yang kalo diangetin malah tambah enak. Ups..



Sebenarnya aku ingin menulis penutup yang epik, tapi kemudian aku teringat lagi, bahwa sesungguhnya kekuatan dari perjalanan ini adalah rasa yang diciptakan setiap orang di dalamnya. Aku pernah berada dalam sebuah perjalanan, dimana hanya karena satu orang yang energinya tidak sama, merusak semua kenangan dari perjalanan itu. Dan itu tidak terjadi dalam perjalanan ini. Terakhir, terima kasih kembali untuk semuanya…Mohon maaf kalau di dalam perjalanan aku ada salah-salah.

with love, Mari 



You May Also Like

0 comments