Kutukan 30 Jam Kereta Jakarta-Malang

by - Maret 03, 2018

Beberapa kali sebelum jadi ke Bromo, membayangkan perjalanan kereta 16 jam Senen-Malang, rasanya badan sudah digerogoti pegal linu. Apalagi pakai kereta ekonomi, duduk 90 derajat, hadap-hadapan, kaki panjangku selalu bikin masalah.  Tapi bayangan itu sedikit sirna, karena kami berangkat berlima belas orang. Ada energi dari 15 orang yang akan saling mengumpar untuk menguatkan selama perjalanan ini.


Bismillah, bersama rombongan para “senior” di kantor, akhirnya jadi juga ke Bromo. Yeiiii!!

masih pada seger
23 Februari 2018

polos, belum tahu apa yang akan terjadi
Berangkat dari stasiun senen jam 06.15 sore, kereta Majapahit gerbong dua, di bagian tengah, disesaki oleh kami, rombongan pemecah keheningan. Semua berjalan normal, sampai kereta berhenti di Cirebon selama berjam-jam. Katanya karena banjir di Brebes, jalur kereta terisolir, kereta kami pun masuk daftar yang tidak bisa melalui jalur itu. 

24 Februari 2018


Menanti dan terus menanti, pukul 02.00 pagi kereta belum juga beranjak dari Cirebon. Pupus sudah harapan kami sarapan nasi pecel yang dibuatkan teman bu Niken di Madiun. Hingga sholat subuh, kami masih di sekitar Cirebon. Di kala itu, aku masih menginfokan guide di Malang bahwa kami akan sampai sekitar jam 4/5 sore.

Di tengah keresahan itu pula, sekitar pukul 03.00 pagi, petugas KAI membagikan biskuit malkist dan air mineral yang katanya ada manis-manisnya itu kepada kami semua. Bagi yang tak berbekal, biskuit itu sangat menolong.

bagiin biskuit dan minuman
Subuh terlewati dengan tidurnya sebagian besar penghuni kereta. Beberapa terbangun jam 7-8 pagi, menerima kenyataan, kereta kami belum juga melaju jauh. Mendekati pukul 10 pagi, yang seharusnya sudah sampai Malang, kereta kami baru sampai Tegal. Tersiar kabar, setelah Tegal, kereta akan berjalan normal kembali. Dan benar adanya, suara “jes..jes..” ala kereta yang melaju lancar terdengar di telinga, lega rasanya.

Langsung menghubungi guide di Malang, dia bilang kereta kami baru akan sampai Malang sekitar pukul 10 malam. Nampaknya itu tidak lagi mengejutkanku, namun bagi sebagian rombongan, itu adalah mimpi buruk. Beberapa kali toilet kehabisan air, beberapa orang sudah “mati gaya” (kecuali pak Par yang asyik dengan game di HPnya) dan ada yang sakit perut menahan BAB (ada bukti-bukti fotonya). Hehehe 

 Sekitar pukul 11.00 an siang, petugas kembali membagikan makanan, kali ini makan berat, nasi ayam dan sebotol air mineral yang sama dengan sebelumnya. Sambil sesekali menjawab pertanyaan penumpang, mas-mas petugasnya ternyata cukup baper 
Tercyduk mas-mas yang baper..hehe


“ Saya juga capek ini Bu, 24 jam kami nggak istirahat”, ujar mas-mas pramugara yang masih muda itu. Curhatnya ke emak-emak rombongan kami, bukannya dikasihani, malah diciein. Duh, salah alamat mas. Hehehe 

Jelang sore, sekotak nasi dibagikan lagi. Jadilah bekal makanan kami beranak pinak. Tapi, ini membuat kami salut dengan pelayanan KAI. Hadirnya satu kali snack dan dua kali makan berat, sudah mewakili empati KAI dengan nasib kami ini.

mo dijual aja keknya
Meski sudah menerima nasi kotakan, rencana makan nasi pecel nampaknya belum bergeser, jelang maghrib, mas Shofa, mas Jenar dan Bu Niken dengan sigap menjemput “hadiah” hiburan kami. Jadilah kehebohan pembagian nasi pecel merajai gerbong 2. Duh, nikmatnya nasi pecel kala itu masih terasa sampai sekarang. Apalagi ada paru sapinya. Aiiihh..

Pukul 7 malam sudah terlewati, kami diminta untuk bersiap turun di stasiun Blitar. Kabarnya kereta kami akan ditukar dengan kereta lain untuk menuju Malang. Dari Blitar, perjalanan masih 2 jam. Dan menanti pergantian kereta di stasiun Blitar membuat kelelahan kami sedikit memuncak. Belum lagi, di dalam kereta pengganti itu, ada rombongan 4 bis anak SMA yang berjejalan bersama kami. Kami yang sudah duduk rapi, sempat diminta pindah gerbong, sejurus mas Shofa tidak terima, karena kami pun dari awal tidak mendapat brief harus duduk dimana. Sedikit adu mulut dengan petugas, mas Salman mencoba meredam. Akhirnya kami tetap di posisi semula.

Di depanku, kulihat muka-muka lelah anak-anak SMA yang membawa koper-koper super besar nan warna-warni itu. Jelas konsep jalan-jalan mereka beda dengan kami. Kulihat salah satu anak menyapu air mata di mukanya. Entah karena apa dia menangis. Apa setelah mendengar mas Shofa dan petugas sempat bersikukuh, atau dia sudah mulai kangen rumah dan lelah dengan semua ini? Hehehe..Kata mbak Yoyoh, “dia belum tahu kalau dunia ini kejam”.  Lalu kami dengan jahat tertawa di atas tangisan seorang anak SMA. Hahaha 

berusaha tegar dengan wajah pucat pasi

Jadilah kami sampai di stasiun Malang pukul 11 malam, disambut dinginnya kota apel dan keheranan orang-orang. Demi Bromo, kami bergegas kembali ke home stay dan akan dijemput jam setengah dua pagi. Tak ada kata tidur dan menikmati makan malam seperti yang dibayangkan. Setidaknya semangkuk bakso Malang yang panas dengan potongan bakso gorengnya.

Total perjalanan kami menuju Malang kurang lebih 30 jam, sebut saja 30 jam. Itu akan membuatmu mengerti, bahwa ada angka yang sudah bisa kulampaui untuk sebuah perjalanan yang awalnya sulit kubayangkan

Terima kasih untuk semua teman perjalanan “kutukan 30 jam kereta” yang menyenangkan..Teman sebangku yang nggak ganti-ganti dan suka nyender di badanku yang kurus, mbok Yas, teman balik bangku yang selalu nawarin makanan, mbak Yoyoh, mbak Lia yang kuacinya aku sabotase, mbak Dian yang menjaga kestabilan pengeluaran kami, mbak Etika yang selalu berusaha membahagian diri mesti dia kelelahan, mbak Tri, sang penghibur sejati, mas Arif sang pemijat dari barat (halah), mas Salman yang rela membersamai pak BW (heheh), mas Jenar yang selalu update info, pak Parmuji yang ternyata gadged freak, mas Shofa yang selalu jadi komandan perang, eh jalan-jalan, Bu Niken yang memperjuangkan nasi pecel untuk kami, mbak Endang yang selalu nengokin “anak-anaknya”, mbak Sulis yang meski sakit tetap semangat dengan perjalanan ini dan juga bu Maya, yang meski tidak bersama kami di kereta, tapi selalu memantau, up date info dari homestay dan berdoa untuk kami. Lengkap sudah rasanya..

Nggak nyangka jalan-jalan sama senior bisa semenyenangkan ini. Meski kadang nggak ngerti dengan bercandaan mereka. Hehehe…





You May Also Like

0 comments