Apa Sih Kerjaan Amil Zakat??

by - Agustus 23, 2018


AWAL MULA KERJA DI DOMPET DHUAFA

“ Tik, kerja di Dompet Dhuafa gimana sistemnya? Kamu digaji apa nggak?”


Awalnya kukira ini adalah pertanyaan lucu dari seorang teman yang awam. Ternyata setelahnya ada lebih dari tiga orang yang bertanya dengan pertanyaan yang sama. Oh jadi serius ya banyak yang belum tahu bahwa kerja di lembaga zakat itu juga digaji selayaknya karyawan perusahaan. Bedanya, "gaji" kami diambil dari perolehan zakat sesuai dengan ketetapan dewan syariah. Mungkin inilah sebabnya setiap ada orang tua yang nanya dimana aku kerja, mereka langsung tertunduk atau terdiam saat aku jawab kerja di DD. Mungkin di benak mereka muncul dugaan yang sama. “Anak ini kerja jadi relawan, duh kasiannya.” 


Berbekal surat kelulusan, aku mendaftar program “Management Trainee” Dompet Dhuafa tahun 2012. Tak lama, panggilan datang, tes pertama dilakukan di kantor BMT Beringharjo, Jogja. Tesnya tertulis dan diskusi kelompok. Tak juga lama berselang aku dipanggil lagi untuk tes wawancara. Beberapa kali sang pewawancara nanya, “kamu siap kerja sampai sabtu minggu, di DD kadang nggak ada hari libur lho?” . Ingin kubilang padanya, “ Pak..saya tu dari dulu dibilang anak ilang, saking jarangnya di rumah..hehehe”

Lalu sore itu, tiket pesawat langsung kuterima, besok pagi aku harus sudah ada di Jakarta. (oke, baiklah kalau begini caranya..hehehe). Masalahnya adalah draft skripsiku yang final belum dijilid, dokumen-dokumen di kampus belum beres. Hingga akhirnya the power of sahabat dan emak turun tangan membereskannya.
 
Wisuda Program MT Angkatan 1




Lingkungan DD kala itu tak jauh beda dengan lingkungan pergaulanku di kampus dan SMA, tak jauh dari dunia aktivis, diskusi dan rapat. Bedanya di sana ikhwan akhwatnya ya biasa aja ngomong “lu..gue”, nggak kaya di Jogja yang manggil mas-mas kakak senior beda setahun aja  “pak”. Hehehe. (jadi senyam-senyum sendiri kalo diingat)

Situasi sosial mudah diadaptasi, namun situasi Jakarta adalah hal yang benar-benar baru. Pertama kali penugasan, aku langsung kebagian divisi yang cukup “sangar” kala itu, Divisi Zakat. Di bawah coaching mbak Sulis, aku bersama tim bergerilya di wilayah Jakarta Pusat- Utara untuk mensyiarkan zakat, mencari titik open booth layanan ZISWAF, kesana kemari mencari peluang kerjasama penghimpunan zakat ke perusahaan, BUMN, komunitas, dll. Owalah ternyata begitulah caranya dana zakat itu terhimpun. Meski sudah kewajiban, tapi masih banyak yang belum sadar zakat.  Kupikir aku udah cukup “ngaktivis”, sok tahu bisa ini bisa itu, ternyata kenyataan di lapangan, di Ibu kota, aku selayaknya anak kecil yang tak tahu menahu tentang dunia luar.

Pernah nangis di TJ karena berdiri dari depan Sarinah-Harmoni, nunggu di halte desak-desakan nggak karuan, masuk bis arah Lebak Bulus, full berdiri sampai Pondok Indah, dua jam lebih. Masang muka melas juga nggak ada yang nawarin duduk (Oke, di sinilah istilah Jakarta keras mulai terasa denyutnya). Setelah kejadian itu aku baru tahu kalau harusnya aku ke Blok M aja dari kantor DD di  Setia Budi, dari Blok M tinggal cari bis ke arah Lebak Bulus.

Kerja lembur bagai kuda pertamaku adalah saat open booth di gedung UOB. Oleh pihak manajemen kami baru boleh buka booth setelah jam 10 malam. Alhasil kami menunggu dan baru selesai tengah malam. Dari kejadian itu aku baru tahu juga bahwa meski sudah lewat dari jam 12 malam, Jakarta masih ramai dan beberapa titik masih macet. 

Magang pertama sebagai fundraiser adalah pelajaran berharga lainnya yang kudapat di awal OJT. Nyebarin flyer ke orang-orang yang pada dasarnya tidak suka “diganggu”, aku tahu rasanya ditolak. Pandangan orang-orang itu...Ahh...aku paling sulit menghadapi pandangan orang. Ditolak, diabaikan, dipandang risih sampai sekarang pun aku masih belum terbiasa. Jadi salut banget sama fundraiser yang berdiri tegak di hadapan orang-orang dan bahkan berhasil mensyiarkan zakat hingga ada yang berzakat ratusan juta dari booth konter. 

Jadi singkat cerita, setelah proses OJT part 1 itu, coach dan divisi melakukan penilaian ke para MT di divisinya. Alhamdulillah, aku lolos, meski sebenarnya  lebih banyak yang belum aku tahu dan bisa perbuat.  

Dan selanjutnya aku ditempatkan di divisi program, khususnya program ekonomi. Ini benar-benar hal yang baru untukku. Materi pertama yang disampaikan dalam-dalam adalah mengapa harus pemberdayaan? Dan inilah yang dikenang kebanyakan orang tentang Dompet Dhuafa, tentang pilihan lembaga ini untuk lebih mengutamakan pemberdayaan untuk penerapan program ekonominya. 

Selama di program ekonomi, aku dicoach oleh almarhum mas Yayan yang sangat murah ilmu. Semoga Allah limpahkan aliran pahala untuk beliau atas ilmu yang sudah dibagikan.  Di masa ini pula pengalaman pertamaku bikin proposal pemberdayaan ekonomi langsung diuji di kotaku sendiri, Klaten.

Pelajaran baru juga terbentang luas di sini. Tak seperti bangku kuliah yang berjenjang. Aku bisa bertanya dari Z sebelum menapaki A. Tinggal bagaimana kecepatanku memahami dan mau mengerti lebih dalam.

Keseluruhan pekerjaan ini mulai menimbulkan rasa penasaran yang berloncatan. Apa lagi yang akan kulakukan? Ilmu apa lagi yang akan kuterima? Pengalaman apa lagi yang akan kudapat? Manfaat apa yang bisa kuberikan? 

Dua kali magang, tak pernah terbesit kata “menyerah”, malah semangat makin merekah. Terutama  saat pola kerja makin beraturan, intinya adalah memberi manfaat yang lebih untuk orang lain. Bahwa untuk berbuat baik pun perlu terorganisir dan dikelola dengan profesional. Dan aku sangat suka itu semua. Mungkin inilah yang membuat hatiku nyaman berada di lembaga. Saat tak ada sekat yang berarti untuk belajar, bertumbuh dan mengambil banyak kesempatan untuk berbuat lebih baik. Kesempatan yang aku sangat tahu dirindukan oleh banyak orang di luar sana. 

Inilah pengalaman awal mula kerja di Dompet Dhuafa. Ini baru part magang, insyaAllah akan berlanjut ke part berikutnya yang banyaknya tiada tara. Hehe…


 BERSAMBUNG...

You May Also Like

0 comments