#KAI Berhasil Mengatasi "Kutukan" 30 Jam di Kereta Kami

by - November 21, 2018


Siapa sih yang tahan dengan rayuan pesona Bromo? Lihat fotonya saja kita berdecak kagum, apalagi kalau langsung berada di sana. Meski masih tergolong gunung berapi aktif, keindahan Bromo tak menyurutkan langkah wisatawan untuk mengagumi keindahannya. Deretan kaldera, ngarai, lautan pasir yang membentang hingga 10 km membuat setiap sudut Bromo hanya akan semakin membuat pengunjungnya tercengang. 

Kemegahan Gunung Bromo di pagi hari


Menikmati lukisan Tuhan di Bromo bisa jadi mimpi buruk lho. Apalagi kalau kondisimu kurang sehat, kecapekan, kantong tiba-tiba menipis atau ada gangguan dalam perjalanan. Duh, usahakan persiapanmu maksimal ya. Catat dan tentukan pilihan terbaik yang sesuai kebutuhan, agar perjalananmu jadi momen tak terlupakan.


Inilah ceritaku. Bersama 15 rekan-rekan sekantor, kami merencanakan perjalanan ke Gunung Bromo dan Kota Malang. Setelah mematangkan rencana, kami memutuskan untuk menumpangi kereta dari Jakarta ke Malang, begitu juga saat pulangnya. Kami sadar fasilitas kereta api saat ini sudah sangat memadai. Itulah kenapa, kami memilih kereta api, meski perjalanannya harus ditempuh selama 16 jam. 

23 Februari 2018, Malam Pertama


Swa foto di depan KA Majapahit


Momen spesial ini tentu tak kami biarkan berlalu tanpa adanya bukti. No pic hoax. Inilah kami di depan Kereta Majapahit yang akan menuju Malang. Wajah bahagia, rasa tak sabar dan penat yang mulai merontok mengiringi suasana hari itu. Pukul 18.15 sore kereta kami berangkat. Di gerbong dua, khsusunya di bagian tengah, rombongan kami duduk berdampingan. Bisa memilih kursi dan tetap berkumpul dalam satu gerbong adalah cara menikmati perjalanan yang sangat menyenangkan. Kami bisa saling bertukar cerita, berbagi makanan, sambil bercanda dengan bebas. 


Tips: Bagi kalian yang akan menumpangi KA dengan jumlah rombongan minimal 20 orang,kalian juga bisa dibantu untuk duduk dalam satu gerbong. Kalau budget kalian sesuai, silakan gunakan fasilitas gerbong prioritas dimana kalian bisa menyewa satu gerbong khusus. Silakan hubungi call center PT.KAI (Persero) di (021) 121, dijamin kamu bisa dapatkan informasi yang jelas dari KAI. 


Perjalanan kami semula berjalan lancar, hingga akhirnya kereta berhenti sangat lama di sekitar Cirebon. Petugas yang berlalu lalang pun sibuk menjawab pertanyaan kami, Apa yang sebenarnya terjadi? Ternyata hari itu terjadi banjir besar di Brebes. Imbasnya, jalur kereta yang seharusnya kami lewati terisolir dan tidak bisa dilewati lagi  

24 Februari 2018, Selamat Tinggal Keretaku

Menanti dan terus menanti, bertanya sana-sini adalah yang kami lakukan di dalam kereta. Pukul 02.00 pagi, kereta kami belum juga beranjak dari Cirebon. Satu jam berikutnya, pramugara dan pramugari muda dengan cekatan membagikan air mineral dan biskuit. Kami mencoba terlelap, sambil berharap saat terbangun kereta sudah melaju kencang. Nyatanya, hingga waktu subuh tiba, kami belum juga meninggalkan Cirebon. Aku pun segera berkabar dengan guide di Malang, bahwa kami baru akan sampai sekitar pukul empat atau lima sore.

Subuh terlewati dengan tidurnya sebagian besar penumpang kereta. Beberapa terbangun pukul tujuh atau delapan pagi, menerima kenyataan, bahwa kereta kami belum juga melaju jauh. Mendekati pukul 10 pagi (seharusnya sudah sampai Malang), kereta kami baru menginjak Kota Tegal. Kabarnya, setelah melalui Tegal kereta akan berjalan normal kembali. Dan benar adanya, suara “jes ... jes ...” ala kereta yang melaju terdengar di telinga. Ah, lega rasanya.

Aku kembali berkabar dengan guide di Malang. Dia bilang kereta kami baru akan sampai tujuan sekitar pukul 10 malam. Info itu sudah disiarkan di Stasiun Malang. Rasanya tak bisa membayangkan lagi, apa yang akan kami lakukan untuk bertahan sampai 12 jam ke depan. Perbekalan makanan hampir habis, badan mulai kelelahan dan juga air di toilet yang semakin menipis, entah apalagi setelah ini. Duh!


Petugas membagikan biskuit dan air mineral

Namun, kekhawatiran itu sirna perlahan. Sekitar pukul 11.00 siang, petugas kembali membagikan makanan. Kali ini adalah sekotak nasi ayam dan sebotol air mineral. Wah, sungguh tanggap sekali pihak KAI menangani situasi ini. Pun, air di toilet juga segera diisi kembali di stasiun terdekat.

Kami salut melihat pramugari-pramugara yang mondar-mandir membagikan makanan dengan tetap menyungingkan senyum. Capek ya, Mas? Kami iseng bertanya ke salah satu pramugara. Iya, Bu, capek, 24 jam kami belum istirahat, ujarnya sambil tetap tersenyum, meski raut muka kelelahan menggelayut di wajahnya. Semangat ya, Mas! Kali ini dia tersenyum lebih lebar. 

Salah satu petugas yang terus semangat melayani penumpang


Jelang sore, sekotak nasi kembali dibagikan. Para penumpang pun nampak senang dengan inisiatif KAI tersebut. Hadirnya satu kali biskuit dan dua kali nasi kotak sangat berarti bagi kami. Selain karena perbekalan kami memang menipis, hal itu juga menunjukkan empati KAI dengan situasi ini.

Adanya pramugara-pramugari muda, enerjik dan ramah di KAI adalah terobosan yang patut diacungi jempol. Ini menandakan naiknya level pelayanan KAI. Namun, tidak cuma di bidang pelayanan saja. 10 tahun jadi penumpang setia KAI, aku merasakan sendiri perbaikan di segala lini. Ya layanannya, fasilitasnya baik di stasiun maupun kereta, kemudahan transaksi, perbaikan sarana, bahkan gaya komunikasinya pun berubah. Semua terombak dengan baik dan terintegrasi. Bangga dengan Kereta Api Indonesia!!

Mendekati Stasiun Blitar, pengumanan mengudara bahwa kami harus berganti kereta di Stasiun Blitar untuk menuju Stasiun Malang. Kala itu waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Jadilah, akhirnya kami sampai di Stasiun Malang tepat pukul 11 malam. Disambut dinginnya Kota Apel dan guide yang sudah menanti cemas, kami harus segera bergegas untuk berangkat ke Bromo. Aaaaahhh … akhirnya “kutukan” 30 jam di kereta berakhir juga. Semuanya kami lewati demi Bromo! 

Akhirnya kami semua sampai di Bromo dengan ceria!!

Perjalanan yang tak pernah kami perkirakan ini akan selalu menjadi kenangan tak terlupakan. Dan kisah 30 jam di kereta adalah bagian yang paling mengesankan. Jangankan perjalanannya, kami pun masih terus terngiang dengan biskuit yang dibagikan di kereta. Hehehe

Hari itu, kita semua sama-sama berjuang. Bukan hanya kami, para penumpang yang dilanda keresahan, kelelahan dan terganggu aktivitasnya. Para petugas yang bekerja keras hari itu juga telah melakukan perjuangan yang jauh lebih berat. Petugas yang berada di lokasi banjir, para masinis yang harus melawan lelah, petugas cleaning service yang bekerja ekstra, pramugara-pramugari yang terus melayani dan juga petugas di stasiun yang selalu siaga. Tanpa mentalitas yang kuat, semua tantangan hanya akan jadi masalah. Namun, https://www.kai.id/ berhasil mewujudkannya.

Terima kasih PT.KAI Indonesia (Persero) atas kerja keras yang membuahkan transformasi luar biasa di bidang transportasi Indonesia. Terima kasih sudah menginspirasi kami. Teruslah maju dan jadi kebanggaan negeri!    













You May Also Like

0 comments