Ada yang Nggak Normal di Warunk UpNormal?



Semenjak beberapa bulan kembali menjejakkan kaki di Jakarta, ada "sosok" yang sering kuandalkan untuk memenuhi beberapa hajat. Biasa, hajat anak muda zaman sekarang, yang enggak bisa dipisahkan dari wifi, jajan dan tempat yang cozy

Jreng... jreng ... Sosok itu adalah Warunk UpNormal

Tebak, ini di UpNormal mana?


Kalau mau dijejer sama beberapa restoran waralaba semacam mcD, KFC, Solaria, dll, tentu aku akan memilih Warunk Upnormal (yang sekarang beberapa warungnya dikenal sebagai UpNormal Coffee Roasters)

Masuk ke UpNormal itu rasanya kayak ada nuansa dinamis yang enggak terelakan. Orang yang mau ngomongin kerjaan, jadi kayak ngobrol seru. Orang yang tadinya mau nongkrong, bisa jadi malah mencetuskan ide bisnis.

Nah, sebenarnya ada cerita apa sih, di balik menjamurnya Warunk UpNormal di kota-kota besar negeri ini? Dulu cuma denger-denger aja, sih, kalau restoran ini dibangun oleh sekumpulan anak muda dari satu kampus yang sama. 

Wah, kira-kira obrolan mereka tuh kayak gimana ya, dulu? Bayangin lah, sekumpulan anak-anak kampus ngobrol bisnis, terus jadi bisnis yang melejit beberapa tahun kemudian? (Kalau aku dulu malah ngobrolin gimana caranya bisa nikah muda. Duuh...)

Karena kepo, aku mulai cari tahu, khususnya tentang strategi mereka membangun brand Warung Upnormal. Dalam salah satu wawancara yang diunggah di akun Youtube Brand Advanture Indonesia dengan salah satu founder PT.CRP (Citra Rasa Prima) atau perusahaan induk WarunkUpNormal, Sarita Sutedja, ada beberapa insight yang ingin aku share di sini.

Are you ready, wan kawan?

pict from google


1.        1. Mengawali bisnis dengan riset target customer

Nah, salah satu keunggulan para pendiri Warunk UpNormal adalah keahlian mereka dalam membuat rancangan bisnis. Secara, rerata mereka adalah anak agensi alias konsultan bisnis. 

Jadi bikin riset target costumer pun enggak cuma dilakukan seadanya. Berdasarkan hasil riset mereka, munculah ide membuat warung indomie yang semangatnya adalah menjadi tempat berkumpul, menghabiskan quality time bersama teman-teman atau keluarga.

Nggak sampai di sana. Mengambil momentum kebangkitan kopi lokal Indonesia, mereka merancang brand UpNormal Coffee Roasters, yang menyasar segmen eksekutif muda dan didesain sebagai “ruang” yang nyaman untuk meeting non formal. 

Pun, di segmen ini, mereka tetap bisa menikmati indomie. Mereka-mereka ini adalah orang-orang yang memang udah malas nongkrong di tempat yang mungkin bikin mereka “gerah”, kek di warmindo-warmindo.

2. Konsisten membangun brand

Setelah terbentuk brand, maka yang kemudian mereka lakukan adalah secara konsisten membesarkan brand itu. Ini mereka buktikan dengan membentuk brand UpNormal Coffe Roasters dan menjaga value-value utama dari brand ini.

Kalau kata Rex Marindo (dedengkotnya PT.CRP) dalam wawancara yang dimuat di sini , "Semua orang bisa jual Indomie, bisa jual kopi. Tapi apa dampak yang berbeda ketika orang datang ke tempat Anda?"  

Dari pertanyaan itu, mereka mengerahkan energi untuk menentukan DNA dari brandnya, hingga terciptalah gaya mereka menyapa, melayani dan mengajak customer untuk menjadi bagian dari brand mereka.

3. Endurace berada di bisnis life style

Ini adalah bagian terasyik yang aku suka dari pernyataan Sarita. Bahwa, saat ini mereka sudah memasuki bisnis yang bernafaskan life style. Oleh karena itu, mereka mesti punya endurance yang besar untuk tetap tegap menghadapi tantangan perubahan.

Endurance ini yang sering enggak dimiliki sama perusahaan lain. Terlebih, perusahaan yang masih digenggam oleh para pemilik pemikiran-pemikiran lama yang merasa sudah mumpuni dengan pengalaman dan keilmuan mereka.

Alhamdulillah, untungnya jawaban atas kerennya mereka cukup terjawab dengan ini. Bahwa, mereka adalah orang-orang yang gila belajar, gila berinovasi, bertumbuh dan bukan semata mengejar keuntungan.

Eits, satu lagi, mereka juga memulai bisnis dari tanpa meminjam uang di bank, lho. Kalau tentang ini, mungkin lain waktu kita bahas ya. Atau kalau kelen dah penasaran, cari aja infonya cendili-cendili… Hehehe

Nah, wan-kawan, udah ngos-ngosan belum bacanya? Kalau udah, artinya kamu sehat, alhamdulillah. Kalau panas dingin, artinya kamu kesetrum semangat untuk melejit lebih baik lagi. Hihihi. Sekian bincang-cincang ilmu edisi pertama ini. Semoga bermanfaat untuk kita semua. Aamiin Ya Allah.







           

Komentar