Tujuh Tips dari Perjalanan Tujuh Kota Tujuh Hari ...


“Tik, kowe ki kudu ditaleni ben ra ucul. Wong ko ra iso meneng.” (Tik, kamu itu harus ditali, biar ga lepas. Orang kok nggak bisa diem) Aku yang nggak bisa diam, dia yang protes. Itulah yang temanku lihat kalau dia tanya aku dimana dan jawabku sudah di luar kota, entah dimana.
Sebenarnya dia salah momen aja. Kalau dia tanya pas aku lagi di rumah berhari-hari dengan sangat tenang, mungkin dia akan bilang “ko di rumah aja”. Tapi, image si bolang memang sudah terlanjur melekat. Padahal, aku itu sesungguhnya penunggu rumah yang baik. Kalau sudah di rumah, aku nggak akan mati gaya. Banyak hal yang bisa kulakukan. Dari nulis, masak (sambil belajar), bersih-bersih, luluran, maskeran, baca buku, main sama kucing, tidur siang, banyak pokoknya.
Tapi kalau sudah ngebolang, rumahku bisa pindah di mana saja. Mungkin inilah yang tertangkap mata orang-orang. Betapa perjalanan yang kulakukan, di mana aku berada, seakan aku sedang di rumah sendiri. Dan inilah yang ingin aku bagikan pada kalian. Tentang bagaimana aku membuat perjalanan senyaman setiap kali aku pulang ke rumah (meski memang tidak akan pernah sama). Psst … Tips di bawah cuma berlaku untuk single fighter traveller ya. Hahaha …
TUJUH KOTA TUJUH HARI
Klaten-Jakarta-Padang-Padang Panjang-Bukit Tinggi-Payakumbuh-Cirebon
Adalah rute yang harus kutempuh dari tanggal 28 November- 5 Desember ini, dari agenda meeting, kondangan, jalan-jalan, curhat, sampai gathering blogger. Tujuh kota, terlintasi dengan kereta, pesawat, bus, mobil, ojek dan becak. Tujuh hari, menginap di tujuh tempat berbeda. Inilah kisahku, si kelinci kecil yang sedang bertualang bersama dirinya sendiri.
28 November. Kota pertama, Klaten. Sebelum berangkat ke Jakarta, paginya aku jadi instruktur out bond. Aku sudah bisa memperkirakan, nanti aku akan kecapekan di kereta dan tinggal tidur aja. Jadi, ini mempengaruhi pilihan bekal makanan yang kubeli. Jangan beli kopi, makan makanan ringan aja dan air putih kesukaan (pristine).
Di River Moon, Klaten

Aku naik kereta ekonomi, Gaya Baru Malam Selatan ke ibu kota. Bisa bayangkan keretanya seperti apa? Ini yang seatnya 2-3 itu lho guysSo, kalau naik ini sendirian, usahakan pilih seat dulu ya. Cari yang dua seat aja.
Tips 1: Kalau kamu melakukan perjalanan malam, sebaiknya hindari bawa banyak bekal makanan. Usahakan kamu sudah makan sebelum jalan, biar di kereta jadi terstimulus untuk tidur. Apalagi kalau pakai kereta ekonomi, capek kan. Mana nggak bisa lihat pemandangan pula.
Pukul 03.30 pagi, kereta baru sampai Jakarta. Tepatnya, telat 1,5 jam dari jadwal semula. Tapi, ini malah bagus buatku. Jadi aku nggak perlu berlama-lama ngegembel di stasiun sambil menunggu subuh tiba.
Tips 2: Kalau kamu dapat jadwal kedatangan dini hari di stasiun, tunggu sampai langit sedikit menuju terang untuk melanjutkan perjalanan. Carilah titik kumpul yang ramai atau dekat petugas. Alhamdulillah, posisi musholla di Stasiun Senen sangat strategis, terang dan selalu ramai (nggak semua stasiun sama). Jadilah aku nunggu di sana. Masih banyak waktu untuk sholat tahajud, ngaji sambil nunggu subuh.
Selesai sholat subuh, kalau kamu lihat masjidnya penuh, jangan berpikiran untuk menunggu lama-lama di dalam ya. Carilah tempat lain, beri hak pada mereka yang belum sholat. Hal kecil seperti ini kadang masih banyak nggak terpikirkan lho.
Sebelum berangkat, aku memang udah rencana mau makan bakso-baksoan di Lawson yang selalu berhasil menggoda selera. Dan duduk sendiri di empera n Lawson sambil makan bakso di subuh buta juga berhasil membuatku dilihatin orang-orang yang lewat. Ah, bodo amat!
29 November. Kota kedua, Jakarta. Sesampainya di kos Mbak Tyas (penginapan pertama) yang lagi pulang ke Kebumen, aku langsung beberes dan istirahat. Sorenya sudah ada janji dengan tim Jala Pro (content production yang aku dirikan bareng temen-temen) dan persiapan esoknya ke Padang. Kali ini kurasa aku bisa cukup menghemat bawaan, cukup satu tas ransel dan satu tas isi pakaian, dari berangkat sampai pulang tanpa beranak pinak. 
Lebak Bulus yang akan segera berubah wajah

Tips 3: Kalau kamu mau bawaanmu tetap ringkes, pergi pulang, pastikan saat berangkat, ada satu tasmu yang tidak terlalu penuh. Kadang, karena kita merasa bawa tas yang nggak berisi, terus malah jadi kepikiran bawa-bawa yang nggak perlu, karena ngerasa masih muat. Cewek-cewek sering banget kaya gini nih.
30 November. Kota Ketiga, Padang. Sesampainya di Padang, hujan mengguyur tipis-tipis. Rencana mengunjungi Masjid Raya Padang dan Pantai Padang pun pupus sudah karenanya. Tapi, untuk urusan makanan, kami gagal kecewa di kota ini. Makan masakan Padang di sarangnya, memang masyaAllah, nikmat tak terkira. 

Sebentar saja di kota Padang, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Padang Panjang, lokasi Royal Wedding pengantin fenomenal tahun ini. Pasangan pengantinnya, sama-sama orang baik yang disayang banyak orang. Jadilah, 18 orang dari Jakarta berangkat khusus untuk datang ke pernikahan mereka, selain memang kami berniat untuk jalan-jalan juga. Hehehe …
Mampir ke Lembah Anai

Kota keempat, Padang Panjang. Di Padang Panjang, kami menginap di penginapan milik Ponpes sekitar sana (penginapan kedua). Alhamdulillah, prosesi pernikahan berjalan dengan lancar, selancar rencana kami melanjutkan jalan-jalan ke Bukit Tinggi.
Tips 4: Kalau kamu travelling dengan tujuan kondangan, biar nggak ribet, bawa pakaian kondangan yang bisa dipake buat lanjut perjalanan aja. Misal: jangan bawa rok lilit, gamis brokat atau bahan-bahan yang kurang nyaman buat jalan-jalan. Dan nggak perlu juga ribet mikir harus pake sepatu atau tas sesuai acara kondangan (kecuali memang kamu undangan pejabat. Hehehe).
1 Desember. Kota Kelima, Bukit Tinggi. Mencari penginapan yang sesuai budget dan kebutuhan di Bukit Tinggi memang gampang-gampang susah. Antara sewa satu rumah atau hotel? Kemana kami ingin jalan-jalan? Berapa biaya yang dikeluarkan? Hingga akhirnya kami memutuskan untuk menginap di hotel (penginapan ketiga) dengan pertimbangan akses kamar mandi yang lebih mudah bagi belasan orang. Pun, lokasi yang dekat pusat kota juga jadi pertimbangan.
Tips 5: Kalau kamu mau nyari hotel, pastikan sesuai dengan kebutuhan, budget, jarak dari tujuan yang ingin ditempuh selanjutnya. Kalau perlu searching rekam jejak hotelnya ya, barangkali itu hotel yang  sering digrebek polisi atau kamar yang  pernah jadi TKP pembunuhan. Nah, lho!

Di Bukit Tinggi, kami mampir ke Ngarai Sianok, Goa Jepang dan Jam Gadang yang sedang direnovasi. Ngarai Sianok yang kami kunjungi ternyata nggak seperti yang kulihat di Instagram. Kepo dong ya, mana sih spot yang selalu muncul di tagar #ngaraisianok di instagram? Akhirnya, kami menemukan spot itu setelah bertanya ke penduduk sekitar. Tara … Akhirnya bisa mengabadikan momen di “sawah tak bertuan” yang membuat fotoku kekinian. Hihihih …
Gegara mau foto di sini, kita jalan kaya anak ilang

2 Desember. Kota Keenam, Payakumbuh. Selepas dari Bukit Tinggi, kami melanjutkan perjalanan ke Payakumbuh yang hanya berjarak waktu tak sampai satu jam. Di sini kami menginap di rumah teman Kak Putri (penginapan keempat).  Hari itu kami ke Lembah Harau dan beberapa air terjun yang melingkarinya.
Kesanku di Lembah Harau, gagah! Dua bukit berbatu cadas setinggi lebih dari 100 meter saling berhadapan, seakan jika kamu berdiri di tengahnya, ada dua kekuatan besar yang menjagamu. Beruntung aku ke sana naik motor, sampai kepalaku bebas mendongak menghabisi setiap sudut yang kupandang dengan rapalan doa. Sambil memejam mata, aku memohon pada Tuhan yang menciptakan keindahan tak terkira ini, “kiranya aku ikhlas dengan semuanya, semoga Engkau ijabah harapanku ya Allah”. 
See...gagah ya yang di belakangku

Sepulang dari Lembah Harau, aku merasa badanku sudah mulai mengajukan protes. Istirahat! Capek woy! Makan yang bener! Kira-kira itulah yang dia teriakan sampai aku merasa bersalah, karena mengabaikan syarat sehat ala Mariana nomor satu, “Jangan minum es”.
Jadi, karena aku udah dapat sinyal dari sejak di Bukit Tinggi, malam itu juga aku pesen Teh Talua lewat aplikasi gojek. Kupikir ini semacam teh rempah yang bakalan "nyegerin" badan. Pas tehnya udah nyampe,
“Ka, kamu mau nggak, keburu habis lho,” kataku sambil menyodorkan Teh Talua di tanganku ke Kak Putri.
“Aku nggak suka kalo telurnya dicampur gitu.” kata ka Putri.
“Lha orang ini teh, kok telur sih, Kak?”
“Maaak … Itu namanya aja Teh Talua, talua kan telur artinya. Hahahaha.”
“Ya Allah, Kak, aku baru tahu, untung udah habis ini.”
Ya ... Kak Putri sih udah maklum dengan "kekacauanku", eh ternyata Neng Lusty juga rada "gila" dan jadilah kita grup yang saling melengkapi.
Jadi, poin selanjutnya adalah dengan siapa kita melewatkan perjalanan jadi kunci utama kenyamanan dan kesenangan selama perjalanan kita. Terima kasih secara khusus aku sampaikan untuk dua orang partner  yang satu frekuensi, satu visi, sama-sama nggak ribet, anti mengeluh dan menyenangkan seperti Kak Putri dan Neng Lusty. Semua rombongan memang sangat menyenangkan, tapi karena aku selalu sekamar dan satu kode booking sama mereka, kenangan kita pun jadi spesial pakai talua. Hihihi
Mau banget jalan lagi sama mereka, Neng jilbab item, Kak Putri jilbab kuning
 Tips 6: Kunci perjalanan menyenangkan itu terletak dalam dirimu sendiri, jauh sebelum kamu merasa faktor di luar dirimu yang menentukannya. Cuaca, hal tak terduga, perubahan jadwal, menunggu, dan rangkaian hal yang kurang menyenangkan bisa terjadi kapan saja. Jadilah seorang yang ringan hati. Tak suka membesarkan masalah, santai dan memberi energi positif untuk orang lain. Dijamin, perjalananmu akan selalu menyenangkan dan meninggalkan cerita yang indah.
3 DesemberBack to Jakarda. Dirundung hujan, suasana Jakarta sore itu langsung membebaskan kenangan yang tersimpan rapat selama ini. Beruntung, bapak driver go car ngajak aku ngobrol, kalau nggak, air mata udah siap meluncur deras, diiringi gemuruh dari dalam hati (baper).
Mengukur ketahanan tubuhku, akhirnya aku memutuskan untuk menginap di kosan Neng Lusti (penginapan kelima). Pilihan ini juga yang kulakukan di keesokan harinya. Tanggal 4 Desember aku menginap di kosan Mbak Yoyoh (penginapan keenam) setelah siang dan sorenya ada dua meeting yang cukup jauh dari kosan mbak Tyas (tempat menginap pertama).
5 Desember. Kota Ketujuh, Cirebon. Dihubungi panitia kontes blogger KAI di hari keberangkatanku ke Jakarta dari Klaten adalah kejutan yang masyaAllah banget. Pas dikasih tahu lolos 30 kontestan terbaik dan diundang ke Cirebon tanggal 5 Desember, aku langsung mengucap hamdalah. Pas banget kan cara Allah ngaturnya. Tanggal 3 balik dari Padang, tanggal 4 ada dua meeting di Jakarta, tanggal 5 nya ke Cirebon. Memang, Allah sangat baik. 
Mampir berfaedah di Cirebon

Setelah kembali dari acara sehari di Cirebon, aku menginap lagi di kosan teman. Kali ini aku nginap di kosan Ana, sahabatku dari SMA (penginapan ketujuh). Dan ternyata maneuver menginap di tempat orang lain itu sangat menyenangkan. Ada kalanya, hatimu terisi oleh bulir-bulir hangat yang menenangkan dengan berada di sekitar orang-orang baik yang menyayangimu. Dan silaturahim adalah jembatan terbaik untuk mengisi kembali bara hangat itu.
Satu hal lagi keuntungan dari menginap di tempat orang lain. Aku jadi selalu punya alasan untuk beberes a.k.a mandi (nggak enak kan bau badan). Jadi rajin makan karena pasti ditanya, “udah makan belum?’ (nasib nggak ada yang nanyain. Hahaha). Coba kalau aku langsung balik ke kosan yang aku sendirian, kemungkinan besar aku langsung tepar tanpa mandi dan makan.
Tips 7: Tips terakhir dari maratonisasi perjalanan kali ini adalah jangan lupa tetap terkoneksi pada Sang Maha Pencipta. Sebisa mungkin sunnah tetap terjaga. Tahajjud, dhuha, dzikir pagi/petang, ngaji, sebisa mungkin jangan ditinggalkan ya. Liburan itu ya buat aktivitas rutin, bukan buat libur dari ibadah.
Akhirnya, di sinilah aku sekarang, kembali ke Klaten, di rumah yang memuat kenangan tak terkirakan. Dan cerita tujuh kota tujuh hari ini kututup dengan sebuah refleksi diri bahwa perjalanan bisa menghangatkan hatimu, karena ada ruang yang dihinggapi kenangan dan rindu yang memanggil untuk selalu kembali.
Selanjutnya, entah ke mana lagi? Dengan siapa? Apa yang akan terjadi? Ku tak tahu pasti ... 
#7hari #7kota #7tips #7penginapan

Komentar